tiket pesawat murah

tiket pesawat murah

Rabu, 21 Desember 2016

Perjalanan Ke pattene

Belum libur tapi jadi jadwal ke pattene sudah tiba. Tgl 20 rabiul awal dan bertepatan juga tgl 20 desember 2016. Tapi mumpung sudah semester jadi bisalah ikut ke sana jalan jalan sama ortu. Walaupun sebenarnya pekerjaan tuk nulis rapor belum selesai.tapi bisalah terkejar. Saya balik dari sana sebelum tgl 24.

Tahun ini kakak tertuaku yang biasanya ikut mendampingi ayahku tuk bawa mobil tidak ikut. Karena tahun lalu ia sudah resmi jadi pns sehingga tidak bisa bebas ke mana mana. Akhirnya ayahku sendirilah yang bawa mobil.

Sementara makan nenas, tiba tiba ayahku berteriak. Ternyata Gigi palsunya jatuh saat dia mau membuang nenas keras dari mulutnya. Saat di cari sudah hancur di injak mobil.

insiden gigi palsunya yang bagian bawah jatuh itu sudah sering terjadi. Pernah dia makan rambutan kecut dan membuang rambutan kecut itu dari mulutnya. tiba tiba gigi palsunya juga ikut keluar. "Giginya cari rambutan manis." Canda sepupuku waktu itu yang juga lagi makan rambutan. Di cari cari ke mana terlemparnya, akhirnya ketemu. Dan tidak apa apa. Karena jatuhnya di tanah. Sedang kali ini di aspal. Trus di lindas mobil lagi.
Gigi palsunya memang longgar bagian bawah. Rencana mau diganti. Namun blum sempat dia ke tukang gigi mala sudah hancur duluan.

Gigi palsunya sisa bagian atas membuatnya tak bisa makan sembarangan. Padahal biasanya klo perjalan jauh begini dia suka ngemil.biar tidak ngantuk katanya. Tidak bisa makan dan perasaan tak nyaman tanpa gigi palsu yang bagian bawah membuatnya sering ngantuk dan singgaj singgah.

Dari palopo sampai pangkep aman.semuanya berjalan dengan lancar.meski perjalanan menjadi sangat lama.karena ayahku selalu berhenti untuk tidur sejenak. Karena merasa ngantuk. Tapi tak apa. Yang penting selamat nantinya sampai tujuan.

Namun, memasuki maros yg jalur dua, saya mulai khawatir. Waktu sudah sore. Jalanan padat karena semua orang buru buru ingin sampai di rumah. Meskipun padat namun pengendara kebut kebutan. saya sendiri kaget kaget karena mobil n motor melambung dari kiri kanan dengan laju.

"Braaaak"
Sebuah sambaran mengenai kaca spion mobil ayahku. Sungguh mengejutkan. Semua yang ada di dalam mobil langsung berteriak.
Tapi aku lihat ayahkulah yang salah.karena ia tiba tiba mobilnya agak ke kiri sehinga mengenai belakang mobil truk yang membawa bawang. Dalam keadaan lelah memang bahaya membawa mobil di kota besar. Dan ayahku sendiri mengakui kalau dia tidak sengaja ke kiri sehingga kaca spionnya d sambar.

Tapi aku masih berucap alhamdulillh.karena hanya kaca spionnya saja.

sudah lama memang ia tak membawa mobil ke makassar.biasanya kakak yang bawa sehingga ia mungkn tak terbiasa dengan jalanan yg begitu padat dan kebut kebutan.

Di jalanan sempit menuju leppangkomai kembali kaca spion kanan d tabrak oleh pengemudi mobil. Lengkaplah sudah.spion kiri dan kanan semua rusak.

Sopir yang menyambarnya juga kaca spionnya rusak. Dia marah marah dan menyalahkan ayahku yang terlalu ketengah. Dan dia mau d ganti rugi. Dia sangat marah dan memaki maki ayahku. Apalagi melihat kaca spion kiri ayahku juga d sambar semakin yakinlah sopir itu kalau ayahku memang sembrono bawa mobil. Karena dua dua kaca spionnya rusak .

ayahku tak mau d salahkan.karena dia sudah merasa benar. Melihat ayahku di maki maki dan di bentak bentak sama sopir muda itu membuat tante2ku ikut membela ayahku. Dia marah ke orang itu karena kurang ajar terhadap orangtua.

Di sopir mengancam akan bawa masalah itu ke polisi. Ayahku dan tanteku mempersilahkan kalau dia memang mau lapor polisi. "Akan saya cari nanti ini mobil." Kta sopir itu. "

Untungnya ibu sang sopir itu turun dan menenangkan anaknya. Akhirnya merekapun pergi.

Aku semakin trauma. Sepanjang jalan menuju pattene perasaanku hanya dipenuhi ketakutan. Saya merasa jadi tak nyaman.

Alhamdulillah.akhirnya sampai d pattene dengan selamat meskipun itu sudah terlamat.tidak mendapatkan sholat magrib dan isya di sana. Kami ketinggalan zikir bersama bersama ratusan orang dari berbagai daerah yang terdengar begitu syahdu. Karena hanya teriakan zikir yang terdengar.
Meskipum sudah sampai di pattene hatiku masih merasa tdk tenang.saya jadi tak bergairah tuk makan. Coto jadi terasa hambar.

tuk pulang, saya tidak mau lagi kalau ayahku yg bawa mobil. Saya ingin orang lain yang membawa mobil. Tp ayahku malah tak mau.ia mersa bisa.

Setelh membeli kaca spion abal abal yg bukan tuk taruna kamipun ke maros ke rumah kelurga tuk istrahat skalian memperbaiki kaca spion. Karena bukan kaca spion khusus taruna akhirnya harus di pasang di bengkel. Karena lobang gagang kaca spionnya tak sama katanya.

Sambutan yang begitu hangat dari keponakanku bersama suaminya membuatku sangat senang. Aku jadi merasa malu. Karena selama ini aku selalu cuek dengan tamu. Bahkan terkesan tidak suka kalau ada tamu yg datang ke rumah. Karena aku merasa direpotkan. Tapi keponakanku ini tidak. Malah menyuruh kami tuk nginap. Dan melayani kami dengan baik tanpa merasa terbebani. Bahkan saat aku membeli sepatu jualannya dia tak mengambil untung sama sekali. Dia kasi harga modal. Sepatu yang seharusnya harga 35 rb hanya di beli 23 ribu.
Dia bercerita ttg suaminya yang sekarang yang begitu baik dan sabar. Karena ia tak gengsi membantu istrinya. Dan akhirnya mendapatkan seorang anak dari suaminya ini. Suami pertamanya yang seorang polisi dulu, angkat sampah saja gengsi. Malah dia menyarankan tuk kembali ke maros kalau libur tuk berobat di tempatnya dulu promil. Dia siap mengantar.

Kakaknya yang juga teman akrabku waktu sma juga sangat baik. Dia mengantar ayahku ke rumah sahabat ayahku yang ternyata sudah meninggal 2 tahun yang lalu. Dia juga mengantarnya ke bengkel memperbaiki kaca spion. Padahal dia harus ke kantor. Namun demi ayahku dia minta izin.

Lagi2 kakaknya yang sudah punya anak dua laki2 juga menyarankanku ke maros tuk berobat kalau libur. Dan dia juga siap mengantar.

Alhamdulillah. Karena mereka benar benar baik. Semoga hal itu bisa menjadi pembelajaran buatku. Agar selalu bersikap baik dengan orang yang datang ke rumah. Tidak bersikap cuek dan acuh.

Mereka begitu hormat dengan orangtua dan menghargai keluarga.

Perjalanan kali ini tak terlupakan. Karena di isi dengan berbagai kejadian menakutkan. Awalnya saya merasa menyesal ikut. Karena seandainya saya tak ikut past ayahku naik bus. Tapi karena saya ikut akhirnya dia naik mobil. Saya sama sekali tak khawatir akan kondisi ayahku saat itu. Karena dia sudah biasa keliling. Dari ampana sampai ke sulawesi teggara bawa mobil sendiri di temani dengan ayahku. Yaaah. Insiden ini terjadi karena tak terbiasa dengan kondisi jalan yang padat. Di tambah penglihatan juga sudah mulai memudar.

Namun di balik sebuah musibah pasti ada hikmahnya.

Sabtu, 15 Oktober 2016

Promil 3

Haid pertama. Saya langsung ke palopo setelah menelfon apakah ada dokternya atau tidak.

Brangkat jam 1 dan sampai di sana sore.

Seperti biasa. Aku masuk dan d usg dan ditanyakan tentang haidnya.
Kapan pertama kali haid?
Ini hari dokter.
Ini yg kedua kalinya ya saya kasi obat penyubur. Kalau haidki lagi bulan depan terakhirmi saya kasiki obat penyubur.
Jadi saya ndak ke sini lagi dokter? Sya kaget.
Tetap ke sini. Tapi sudah tidak di kasiki lagi obat penyubur.
Tinggal di atur saja jadwal berhubungannya.
Saya jadi lega. Kirain sudah tdk ke dokternya lagi.

Saya jadi ingat pernah baca. Kalau obat penyubur itu tidak boleh di minum lebih dari tiga bulan. Karena bisa mengakibatkan kista.

Mana suamita?
Ada di luar dokter.
Panggilki dulu
Akupun keluar memanggil suamiku. Dia di tensi sama perawat dan di timbang. 50 kg. Setelah itu duduk di sampingku menunggu petunjuk dari dokter.

Banyak banyak ki makan buahhh...
Kayaknya dokter lupa. Buah tomatkah? Semoga saja bukan.
Buah semangka.
Sebelum dokter bilng saya sudah googling buah yang bagus buat kesuburan pria. Dan ternyata semangka. Sudah beberapa hari ini dia konsumsi semangka. Dia makan sehabis pulang kerja. Atau lagi bersantai. Karena aku katakan padanya bahwa satu semangka harus habis dalam dua hari. Diapun semangat memakannya. Padahal dulu kalau aku beli mana peduli dia makan. Pernah dia membawa sebuah semangka dari kebun yang tumbuh sendiri di pinggir jalan dan dia biarkan saja. Rak pernah ada niat sedikitkun untuk memakannya.

Kembali lagi ke masalah dokter.
Makanki juga telur ayam kampung pak. Yg habis d masak.
Ibu masa suburnya tanggal 25. 23 sampai 24 tdk boleh berhubungan. Habis berhubungan angkat kakita atau kasi sandar di dinding.
Ini nant ada saya kasi obat di minum langsung dua ini malam. Dan ada juga nanti subur baru di minum. Bapak juga nanti ada obatnya. Nanti subur baru di minum.

Selesailah konsultasinya dgn dokter. Tinggal ambil obat di apotiknya.

Aku di kasi penyubur genoclom yg harus d minum 2 pada malam hari selama 5 hari. Dan santa e nya pada masa subur.

Sedang suami di kasi pil. Kalau tidak salah torrix. Karena saya hanya melihat dari kejauhan tulisannya di tempatnya. Pil itu di minum pas masa subur. Tgl 25. Semuanya 545 rb.

Selesailah sudah. Tinggal pulang dan menunggu sampai bulan depan. Apakah berhasil apa tidak.

Saya langsung pulang habis makan malam. Tak lagi nginap di hotel. Suami sebenarnya keberatan.karena sudah lelah. Saya bilang nanti singgah saja di masjid tidur kalau ngantuk.

Kalau nginap berarti besok jam 1 baru baru balik. Trus ke sentral belanja2. Tapi kali ini say bawa uang pas pasan. Tidak bisa juga belanja di pasar sentral. Mendingan pulang.

Pas ngantuk singgah di masjid. 11. 30. Dan berangkat lagi jam 1.20.

Pas baru berjalan beberapa menit, hujan. Tapi kami tak berhenti. Di pertamina kami mengisi bensin dan skalian istirahat di mushollanya.
Sudah satu jam perjalanan.

Saya jadi menyesal pulang. Seandainya nginap di hotel pasti skrng lagi tidur nyenyak. Tidak menderita seperti ini. Kedinginan. Di tambah lagi dengung nyamuk yang membuatku tak bisa tdur.

Setelah tdur sebentar melepaskan lelah kmipun brangkat lagi. Krena hujan sudah reda.

Melakukan perjalanan di malam hari itu sebenarnya enak. Tidak panas. Trus jalanan juga sepi. Hanya mobil bus bus besar dan truk truk yang banyak dan kencang. Sampai sampai helm ku rasanya mau terbang jika ada mobil truk yang lewat di sampingku dari arah depan.

Jam 3 subuh baru sampai di rumah.
Alhamdulillah.
Perjalanan yang begitu melelahkan. Namun seru saat diingat kembali. Begitulah perjuanganku. Demi seorang anak kami rela melakukan perjalanan naik motor setiap bulan. Kami kumpulkan uang agar bisa ke sana lagi bulan depan.

Semoga saja saat kami di berikan kepercayaan oleh Tuhan semoga anak kami nantinya benar2 membawa kabar gembira dan kebahagiaan dan menjadi kebanggan kami.
Amin



Kamis, 08 September 2016

Promil 3


Waktunya pulang dan urua adminitrasi.

Jumlah yg harus sy bayar 3585000. Cukup kaget mendwngar biayanya. Heheheh. Untung masi ada uang sekitaran itu. Karena memang pernah dwngar dr twman yg juga promil. Kalau dia bayar sekitar 6 jutaan. Karena memang berobat umum. Jadi biayanya mahal.
Rinciannya biaya kamar 120 rb.
Jasa operasi
kuret 2.580.000. Hsg 645 rb. Dr obgyn 1x 25 rb. Usg 125 rb. Administrasi 40 rb.

Setidaknya kalau mau promil harus menyediakan uang dulu. Trus pilih dokter yg memang sudah terkenal. Karena kalau setengah2 bikin habis uang.

Dan setelah di hitung2 semuanya memang hampir 6 juta. biaya makan bensin blum lagi belanja2 yg lain.

nama dr nasar memang sudag sangat terkenal.dan banyak yg berhasil hamil setelah konsultasi dengan beliau.

Semoga saja sayapun berhasil.

Promil d dr.nasar 2

Dokter nasar menyarankan hsg. Saya setuju.daripada bolak balik. Dab hsg nant jam 7 malam.  Dan harus rawat inap karena di kerja malam. Jangan sampai saya pusing atau ga enak badan. Karena nanti hsg nya di bius total.

Sebelum hsg saya menebus obat bius dan peralatan hsg lainnya. Semuanya sekitar 900 rb.

Baru kali ini saya di infus. Tp tdk tdrlalu sakit saat jarum infus di tusukkan. Yang sakit itu saat ada lagi suntikan lain di tangan. Saya sampai berteriak sedikit dan menangis.

Setelah semuanya di pasang beberapa menit kemudian saya di bawa ke ruang hsg. Perawat menyuntikkan obat di infus dan saat aq sadar suamiku sudah di sampngq. Dan hsg nya sudah selesai. Dan terdengar dokter bilang kalau kandunganq bagus. Alhamdulillah. Dan akupun di bawa ke ruang inap kelas 3 yg biayanya 120 rb.

aku datang tak ada persiapan nginap di rumah sakit. Namun untungnya keluarga pasien baik. Meminjamkan bantal.sarung. bahkan popok dewasa dia berikan padaku. Karena cairan yg dimasukkan td sedikit demi sedikit keluar seperti haid. Warnanya pun merah.

Kok uangku sisa segini. Kataku pada suami. Ternyata saat aku tak sadar suami di suru beli obat yang harganya 148 rb.

Paginya di usg sama dokter. Dan dia bilang rahimku bagus.
Kistanya bagaimana dokter? Tanyaku. Tidak apa2 katanya.

Saya lalu di kasi resep. Proxidan. Harganya 233 rb. Untuk saya minum. Obat untuk suami belum datang katanya. Dan di suru datang lagi tgl 20 septem kontrol. Skalian di kasi obat untuk suami.

Promil di dr.nasarudin

Menikh sudah hampir 7 tahun belum juga hamil membuatku kembali promil.

Ketenaran nama dr.nasaruddin membuatku sangat ingin promil dengan dia. Namun biaya yang selalu menjadi penghalang tuk ke kota palopo. Karena butuh uang beberapa juta jika ingin promil.

Setelah uang sedikit terkumpul akupun ke prakteknya di palopo.

Ternyata dr.nasar itu tidak terlalu tua seperti perkiraanku. Saat aku memperlihatkan analisis sperma suami yg oligoteratozoospermia,diapun bolang kalau spermnya terlalu sedikit. Padahal udah beberapa bulan ini suami sudah berusaha minum obat herbal agar kualitas spermanya bagus. Karena dua tahun yg lalu sudah pernah analisis sperma hasilnya juga oat. Dan sekerng masih sama.

Ada kista. Kata dokter nasar. Kalau tak salah 0.3. Aq pun menceritakan kalau aq buln lalu ke dokter kandungan dan mau d kasi obat penyubur. Tapi obatnya habis.
Tidak boleh juga d kasi obat penyubur kalau ada kista. Katanya tambah besar.

Entah kapan kistanya ada. Karena pas haid bulan lalu saya usg d tomoni. Usg transvaginal tapi dokternua tak bilang kalau ada kista. Mungkin belum muncul waktu itu. Hanya dia menyarankan hsg. Dan saya setuju tuk hsg hari ke 9. Dan di larang berhubhngan sampai sampai saya hsg.

Sudah pernah hsg sekli di rumah sakit rampoang dua tahun yang lalu, membuatmu agak ngeri dengan rasa sakitnya yang tak terkira. Tapi demi anak. Aku rela menjalani semua itu. Namun saat alatnya di masukkan yang rasanya agak sakit dr bilang kalau saya keputihan. Makanya di dalam sariawan sehingga mudah berdarah. Kena alatnya membuat yang mudah berdarah karena sariawan.

Akhirnya batal hsg nya. Dokter lili cuma menyarankan untuk mengobati keputihan dulu.

Tapi lgi2 obat yg d masukin di jalan lahir tak ada. Begitulah kalau tinggal di kampung. Kadang tak ada obatnya.

Jumat, 13 Maret 2015

Bersalah (curhat bbm)

;-)lhesa: Lembur ya kang cakra.eh.kang alvin.=-)
;-)lhesa: Assalmu alaikum.boleh curht or nanya lagi ga kang?????
«~•Ilalang_Senja•~»: Silalkan
;-)lhesa: Ada tman yg d tinggalkn sama istrinya.aq berniat memperbaiki hubungan mrk.aq nelfn tu wanita n menyampaikan pesan suaminya.
;-)lhesa: Krn slma ini klo suamix nelfon ga mau d angkat
;-)lhesa: Tp ternyata, stlah pesan2 dr keduanya aq sampaikan
;-)lhesa: Malah menyakiti perasaan mereka
;-)lhesa: Aq jadi merasa bersalah
«~•Ilalang_Senja•~»: Kalau bukan porsi-na lebih baik jangan aja.
«~•Ilalang_Senja•~»: Ya minta maaf !
«~•Ilalang_Senja•~»: Kecuali Ilmu tinggi, bisa memeluk orang dengan baik, baru nasehati
«~•Ilalang_Senja•~»: Lah diri udah di nasehati belum
«~•Ilalang_Senja•~»: =))
;-)lhesa: Aq ga nasehati kok kang
;-)lhesa: Aq hanya menyampaikan apa yg ingin d sampaikan oleh suaminya
;-)lhesa: Aq cuma bertanya knpa dia pergi dan gak kembali
;-)lhesa: Karna istrinya minta isin pergi ke rumah oragtuanya
;-)lhesa: Karna mau mempeebaiki hubungan mrk
;-)lhesa: Tp ga pernah kembali lagi
;-)lhesa: Selma 6 bulan
;-)lhesa: Suaminya heran
;-)lhesa: Knp istrinya ga kembali
«~•Ilalang_Senja•~»: Itu urusan dapur mwrwka
;-)lhesa: ;-)
«~•Ilalang_Senja•~»: Mereka
«~•Ilalang_Senja•~»: Pasti dulu ada masalah
;-)lhesa: Yg perempuan kan bugis kang
;-)lhesa: Yg laki jawa
;-)lhesa: Pacaran dan akhirnya hamil
;-)lhesa: Dan keduanya kawin tanpa restu dr ortu si cewek
;-)lhesa: Suami selalu berbaik sangka pada istrinya
;-)lhesa: Ia yakin klo istrinya sangat mencintainya.hanya oragtuanya saja yg ingin memisahkan mereka
;-)lhesa: Berarti aw salah ya kang
;-)lhesa: Krn menelfon si istri
«~•Ilalang_Senja•~»: Haha, kalo uda urusan dapur itu saya ngga mau tahu !!!
«~•Ilalang_Senja•~»: Mereka dah berani nikah dah pasti siap dlm kedewasaan
;-)lhesa: Iya kang
«~•Ilalang_Senja•~»: Mau ngga mau ya biar mereka sendiri, jangan sok bisa
;-)lhesa: Makax aq nanya sama kang alvin
«~•Ilalang_Senja•~»: Terlalu masuk dapur orang ngga baik juga
;-)lhesa: Iyya.aq da minta maaf sama suaminya
;-)lhesa: Juga minta maaf sama istrinya
;-)lhesa: Suaminya minta tolong d telfonkan istrinya, makax aq telfonkan.
;-)lhesa: Tapi hasilnya......
«~•Ilalang_Senja•~»: Besuk-besuk ukur kemampuan ! Jangan merasa bisa ! Dan berasa Paling bisa !
;-)lhesa: Iya kang alvin*Tear*
;-)lhesa: Mungkin gt ya kang alvin, jika pernikahan tdk d awali dengn restu ortu, akan berantakan juga
;-)lhesa: Ternyata membangun rumah tangga yg bahagia tak cukup hanya dengan cinta
;-)lhesa: *Tear*
«~•Ilalang_Senja•~»: Restu itu penting ! Cinta penting ! Kemampuan tanggung jawab juga penting ! Tapi merasa paling bisa itu yang ngga penting
;-)lhesa: Aq ga merasa bisa
;-)lhesa: Aq hanya di mintai tolong menelfon istrinya
;-)lhesa: Krn klo dia yg nelfon ga di angkat
«~•Ilalang_Senja•~»: Mbuh lah ! Jadi orang mau na merasa bener !
«~•Ilalang_Senja•~»: Monggo aja !!!
;-)lhesa: ;-)
;-)lhesa: Aduh! Kata kang alvin singkat. Tapi menyengat
«~•Ilalang_Senja•~»: Sebagai suami berani nikah istri kabur ya cari ! Bukan nyuruh orang ! Itu tanggung jawab
;-)lhesa: =-)
;-)lhesa: Aq ngaku salah kang
;-)lhesa: Makasih atas nasehatnya=-)
«~•Ilalang_Senja•~»: Masama !
;-)lhesa: Biarpun kata2 na pahit d hati,  tapi insyaAllah kan menyembuhkn seperti pahitnya jamu=-)
;-)lhesa: =-d =)) =d

Kamis, 12 Maret 2015

Jualan batu (obrolan bbm lucu)

Sha: Hargax brapa tuh dd adit yg ckep
4d!÷O=-x: Lngsung nanya harga =p
Sha: Jadi, mau nx apa dong dd?
Sha: Nax harga penjualx gitu?
4d!÷O=-x: =))
Sha: =p
4d!÷O=-x: Gambar Diterima
Sha: Permatax kok kayak gula2 ya.
Sha: Aq cuma nx harga lo. G minat beli=d
4d!÷O=-x: Asemmm nanya doank =-V
Sha: Kkkkkkkkkkk
Sha: =d =)) =-d
Sha: Beli sama dd adit kan pasti mahal
Sha: Ongkirx blum lagi ongkos ngobrolx
Sha: =p
4d!÷O=-x: Waduh prhtngannya mntep ya =))
Sha: =p =-d =)) =d
Sha: Kan aq tau, dd adit ngobrolx juga d bayar.ga ada yg gratis
Sha: Cumi2 aja, mau d jual k aq.psdhal kan jauh bangt.
4d!÷O=-x: =)) bisnis cumi2 bngkrut... =d
Sha: =-d =)) =d
Sha: Gimana ga bangkrut.
Sha: Banyakan d makan dr pd d jual
Sha: Untung sama modal ludes tuk beli kuota
4d!÷O=-x: =)) asemmmm kkkkkkkkkk
Sha: Klo badanx asemmm ga usah bilang2 ah!
Sha: Udah tau!
Sha: =p
4d!÷O=-x: Weww =-V
Sha: =p ({})
4d!÷O=-x: Wuisss di peluk =p
Sha: Oh! Itu d peluk ya.
Sha: Aq peluk permatanya. Mau ambil bawa k makassar
Sha: Bukan penjualx. Wew
4d!÷O=-x: Kkkkkkkkk

Selasa, 10 Maret 2015

Afk (aku fans kamu) :bbm

«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Sama akang cakra
(*) al(*) hesa: Kok cakra lagiiii=d
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hahahaha
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kan tadi nge-fans sama kang cakra :)
(*) al(*) hesa: Emang klo ngefans gt ya!
(*) al(*) hesa: Sampai memohn supya berjodoh=d =-d =))
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hehehehe
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ya ngga juga kalii
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: :)
(*) al(*) hesa: =d =-d =))
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kan berharap pun ngga masalah
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Asal ngga terlallu tunggi
(*) al(*) hesa: "Berharaplah setinggi langit, jika kamu jatuh, maka kamu akan jatuh diantara bintang2"
(*) al(*) hesa: =d
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: KkKkkkk
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Pepatan orang intelek
(*) al(*) hesa: =-d =)) =d
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Jatuh nya nyeblok ke sawahh
(*) al(*) hesa: Biarpun cuma clining service, otak ttp harus intelek
(*) al(*) hesa: ;-)
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Saya mah orang bodo
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ngga paham itu ngomong apa
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: =D
(*) al(*) hesa: =p
(*) al(*) hesa: Aq juga ga paham
(*) al(*) hesa: Kemarin, ga sengaja baca tuh tulisan,
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hehehehehe
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Nemu dimana
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Koran bekas ya
(*) al(*) hesa: He he he
(*) al(*) hesa: Iya. Koran pembungkus kacang.
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Tuing
(*) al(*) hesa: =-d
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Akang cakra :)
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: OL ngga ya
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: =))
(*) al(*) hesa: =-d =d =))
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kkkkkkk
(*) al(*) hesa: Kang alvin, ol ga ya*Pensive*
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Lagi Off
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Habiss dari ngaji :)
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Malam senin ada jatah ngisi :)
(*) al(*) hesa: Ngisi apa kanh?????
(*) al(*) hesa: Ngisi hatiq bisa ga????
(*) al(*) hesa: =d =)) =-d
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kajian umum orang tua
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kan udah di isi ma akang cakra :)
(*) al(*) hesa: Kkkkkk
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kkk
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Si akang ol ngga
(*) al(*) hesa: Ni akang
(*) al(*) hesa: Malu maluin amat
(*) al(*) hesa: Kkkkkkk
(*) al(*) hesa: Mana aq tauuuuuuu
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kkkkkkkkk
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Aish pake malu
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kan cinte
(*) al(*) hesa: ;-) =-d =))
(*) al(*) hesa: Kok ngerjain aq trus sihhhh
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Mau ngga
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hahaha
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Biarr lah
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Dikitt
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kog
(*) al(*) hesa: Kkkkkkk
(*) al(*) hesa: Biarlah
(*) al(*) hesa: Yg penting kang alvin senang
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kkkkkkkk
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ngga juga sedih
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kasian
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Liat na
(*) al(*) hesa: Kkkkkkkkk
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ngakak aja
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hehehe
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Shuttttt
(*) al(*) hesa: Kan cuma fans akanggggg
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hehe fans dg kagum
(*) al(*) hesa: =d =)) =d
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Cinta, ngefans, sayang, kagum beda tipis
(*) al(*) hesa: =-d =)) =d
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ngakak aja
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: :(
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Seremm
(*) al(*) hesa: Makasih ya kang
(*) al(*) hesa: Da menghibur
(*) al(*) hesa: Kkkkkkkk
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hehehehe
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Emang ane badutt
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: 8-|
(*) al(*) hesa: =-d =)) =d
(*) al(*) hesa: Abang ga ol?
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Dah kemaleman capekk
(*) al(*) hesa: Oh oh oh
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Tadi 2 jam juga kajiannya
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Anak remaja
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Sama orang tua malem na
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: :)
(*) al(*) hesa: Kajian apa?
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Aishh remaja bab fiqh baru sampai bab nikah
(*) al(*) hesa: Bab nikah ya
(*) al(*) hesa: =-d
(*) al(*) hesa: Klo yg tua
(*) al(*) hesa: Kajianx sampe d mana
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Orang tua fiqh bab sholat dan kupasan assayathin wal anbiya
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Iyaa
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Itu baca X_X
(*) al(*) hesa: Assayatin artix apa ya
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Beberapa setan
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Pura pura amat nih orang
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ngetess
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Yee
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ane mah emang masih begoo
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: :)
(*) al(*) hesa: He he
(*) al(*) hesa: Aq nx cuma 1 kan
(*) al(*) hesa: Krn aq da tau anbiyaa itu nabi
(*) al(*) hesa: Aq nx assayatin krn ragu
(*) al(*) hesa: Benarkh artix syaitan
(*) al(*) hesa: Bukankah yg meragukn hrus d perjelas akhi?
(*) al(*) hesa: =p
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Iya ... Assyayathin jamak dari assyaithon
(*) al(*) hesa: ;-) tq
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Same :)
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Open Questions Mungkin !!!
(*) al(*) hesa: Ga juga
(*) al(*) hesa: Aq ga suka mengetes.
(*) al(*) hesa: Org mengetes berarti dia lebih berilmu
(*) al(*) hesa: Untk apa juga menxkan sesuatu yg tlah d ketahui
(*) al(*) hesa: Mending yg blum d kwtahui
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hehe(y)
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Banyak noh di room
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Mending pura pura ngga ngerti aja :)
(*) al(*) hesa: D room bxk apa????
(*) al(*) hesa: ;-)
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: banyak yang suka ngetes orang
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: =))
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ngejajal ilmu pengetahuan
(*) al(*) hesa: Tp ada bagusx juga.
(*) al(*) hesa: Klo sering d tes, pasti d hapal jawabanx
(*) al(*) hesa: Kkkkkkk
(*) al(*) hesa: =-d
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hadehh iya aja deh :)
(*) al(*) hesa: =d =)) =-d
(*) al(*) hesa: Kang alvin cakep, pintar lagi
(*) al(*) hesa: Afk ya
(*) al(*) hesa: Aq fans kamu (AFK)
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Wkwkwkwkkwkw
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Pinter hanya titipan Ilahi
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Cakep hanya titipan juga
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: =))
(*) al(*) hesa: Klo AFK titipan hatiq
(*) al(*) hesa: =-d =)) =d
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Nge-fans sama Alloh n Rosululloj
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: :
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: H
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Jangan sama saiia :)
(*) al(*) hesa: Aq tau
(*) al(*) hesa: Kita seharus ngefans sama Rasulullah
(*) al(*) hesa: Tp kan gpp ngefans sama yg menyampaikan ajaran Rasululloh
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Yang menyampaikan kan agama :)
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Dan hadits
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: :)
(*) al(*) hesa: Iya dwh
(*) al(*) hesa: Gt maksudxxxx
(*) al(*) hesa: D benerin aja yachhhh
(*) al(*) hesa: =-d
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Dalam kitab di terangkan "salah kalau kita nge-fans sama kyai/manusia, karena membuat dangkal hati kita terhadap seseorang yang sempurna yakni Muhammad bin Abdulloh
(*) al(*) hesa: Emang salah.tp itulah manusia
(*) al(*) hesa: Aq jadi sadar
(*) al(*) hesa: Knp bang alvin mau bbman ma aq
(*) al(*) hesa: Mau menyadarkan aq kan
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hahahahahaha
(*) al(*) hesa: Makasih
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Jika antum sadar itu berarti hati dan otak sejalan
(*) al(*) hesa: Iyya
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Dan masih ada iman :)
(*) al(*) hesa: He he he
(*) al(*) hesa: Aq baru sadar
(*) al(*) hesa: Benra
(*) al(*) hesa: Bener
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Maka na kenapa di ledekin
(*) al(*) hesa: He he
(*) al(*) hesa: Syukran kazir
(*) al(*) hesa: Anta jamil jiddan
(*) al(*) hesa: Kkkkkkk
(*) al(*) hesa: Ana uhibbu ilaka
(*) al(*) hesa: Kkkkkkkk
(*) al(*) hesa: =-d =)) =d
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: satu sisi kita kagum dengan sesuatu yang membuat hati kita merasa menginginkan, namun tidak membutuhkan
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Yakni akan merusak kinerja kejujuran hati dalam penyampaiannya ke otak
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Sehingga serasa hati itu bergerak mengejar apa yang di inginkan
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hasrat, kesenangan sesaat namun tak di butuhkan dalam kehidupan sesungguhnya.
(*) al(*) hesa: Jadi..... maksud status abang (jika mampu nasehatilah) itu untuk aq ya bang alvin
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kkkkkkkkkkkk
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Banyakk kogg
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ajang share aja di bbm
(*) al(*) hesa: Tapi aq suka kok d nasehati
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hehehe
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ada non-muslim ada juga yang muslim
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Sembari bersahabat sembari menebar kasih dan ilmu ;)
(*) al(*) hesa: Jadi gt ya. Klo ada user yg kayak aq, pasti d kasi pin
(*) al(*) hesa: Alhamdulillah. Krn kang alvin menemukan aq. Aq memang butuh org bisa sharing n memberi nasehat.
(*) al(*) hesa: Kdg kita mau share sama org tp kita malu
(*) al(*) hesa: Tp klo sama bang alvin mungkn tdk
(*) al(*) hesa: Krn tdk kenal aq
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Malu bertanya sesat deh selamanya
(*) al(*) hesa: He he
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kwokwokwokkk
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Mau nanya monggo.  Bisa ya saya jawab
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ngga buat PR ane biar buka buka kitab lagi
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: =))
(*) al(*) hesa: Kang alvin tamatan apa?
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Smp :)
(*) al(*) hesa: Sarjana master pendidikan?
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Sekolah Menengah Pertama :)
(*) al(*) hesa: Bagaimana hukumx org yg menyampaikan kebenaran tp dia suka berbohong?
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Dalam menyampaikan kebenaran itu sah dan wajib, masalah berbohong orang yang menyampaikan itu urusan nya sama Tuhan
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Undlur Maa Qoola Wa Laa Tandlur Man Qoola
(*) al(*) hesa: Kkkkkkkk
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Liat lah apa yang di bicarakan jangan meliat siapa yang membicarakan
(*) al(*) hesa: Knp sih bang bohong
(*) al(*) hesa: Masa tamat smp
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ya alloh
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Saya memang tamatan SMP kali :(
(*) al(*) hesa: Iya tamat smp
(*) al(*) hesa: Emang
(*) al(*) hesa: Pendidikan trakhirx apa bang alvin?
(*) al(*) hesa: Kok pintar bangt gt
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Jujur di kata boong ehh boong malah di percaya
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: =))
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Emang zaman edan
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kebalik balik
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: X_X
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Na'udzubillah>:/
(*) al(*) hesa: Maaf bang alvin
(*) al(*) hesa: *Tear*
(*) al(*) hesa: Menurut bang alvin, apa memang tipingq ga bagus ya
(*) al(*) hesa: Klo d room
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hehehe ngga jelek juga
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Pendidikan terakhir smp
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Pinter hanya titipan
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Mmasih kalah sama orang paham dan bejo
(*) al(*) hesa: =-)
(*) al(*) hesa: Udah jam1.16 d makassar. Bsok d lanjutin lagi ya naswhatx buat aq.
(*) al(*) hesa: Bsok kerja.
(*) al(*) hesa: Maaf klo mengganggu istirahatx
(*) al(*) hesa: Have a nice dream
(*) al(*) hesa: Kang cakra. Eh slah. Kang alvin maksudx
(*) al(*) hesa: =-d
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: :)
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: ;)
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Silahkan
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Monggo monggo
(*) al(*) hesa: (<B.<B)
(*) al(*) hesa: Assalamu alaikun ustad alvin;-)
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Wa alaikum salam
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Bukan ustadz :(
(*) al(*) hesa: He he he
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Jgn panggl ustadz
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ujian buatku
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: :(
(*) al(*) hesa: =-d=p
(*) al(*) hesa: Aq terlambat ustad.gimana ya carax agar aq brenti main cf
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ngeri ja sama panggilan itu
(*) al(*) hesa: Ok lah
(*) al(*) hesa: Ga panggil ustad lagi
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Panggil aja nama :)
(*) al(*) hesa: Panggil kang cakra eh salah kang Alvin aja
(*) al(*) hesa: Kkkkkkkkkk
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hehe ya boleh begitu aja
(*) al(*) hesa: =d
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Mau berhenti main cf
(*) al(*) hesa: Iyya
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Bakar aja lepp na
(*) al(*) hesa: Kkkkkkkkk
(*) al(*) hesa: =-(
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kwokwokwokwokwokk
(*) al(*) hesa: Aq ga pux lepp
(*) al(*) hesa: Aq pake hp
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Sos-med kan tergantung penggunaan
(*) al(*) hesa: =-d =d
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Jika di gunakan ke hal yang baik, ya baik juga
(*) al(*) hesa: Iya.emang tergantg pemakaix.tp membuat ketergantungan
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kalo lah di pakae buat nonton bf ya dosa lah
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ngga juga lah
(*) al(*) hesa: Aq kan pake hp
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Saya jarang-jarang pakai
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Di delete aja :)
(*) al(*) hesa: Ga bisa pake nontn bf
(*) al(*) hesa: Tp klo q delete, hdpbterasa sunyi
(*) al(*) hesa: Main cf
(*) al(*) hesa: Membuatq sering tertawa
(*) al(*) hesa: Hilangkn stresss
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hehehehe
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kalo bisa jadi obat ya ngga usah di delete
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Cuman kalo ketawa na jadi bikin kurang sekilo ya delete aja
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: =))
(*) al(*) hesa: =-d
(*) al(*) hesa: Gpp lah klo kurang sekilo. Biar langsing=p
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kalo yang kurang badan na
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Sih ngga masalah
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Nah ini yang kurang akal na
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: =))
(*) al(*) hesa: =))
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hehehe :)
(*) al(*) hesa: Jam brpa masuk kerja kangggg??
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: 8.00
(*) al(*) hesa: Aq mau nx nih soal wudhu
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Mangga
(*) al(*) hesa: Berwudhu kan 3 kali tuh
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Sok atuh tanyaken wae
(*) al(*) hesa: Basuhan yg pertama kan wajib
(*) al(*) hesa: Kedua n yg ketiga kan sunnah
(*) al(*) hesa: Bener ga?
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: ya teruss
(*) al(*) hesa: Klo sunnah kan berarti bisa ga d lakukan
(*) al(*) hesa: Klo aq berwudhu hanya membasuh satu kali aja
(*) al(*) hesa: Sah ga?
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Begini bu cakra
(*) al(*) hesa: Kkkkkkk
(*) al(*) hesa: *Rotfl*
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Basuhan yang kedua dan ketiga di anggap sunnah
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Tapi maqom/derajat na untuk kesempurnaan berwudhu
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Jadi harus di lakukan
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Menurut imam syafii ra
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kalau hanafiyyah beda
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Tidak harus di 3 kalikan
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Sama halnya sholat baca suratan setelah fatihah
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Itu hukum na sunnah
(*) al(*) hesa: Jadi klo hanafi bisa sekali ya?
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Tapi harus di baca untuk kesempurnaan
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Bole sekali, kalo bersuci madzab hanafi, batalnna juga hanafi.
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Dan yang berlaku di indonesia itu syafiiyyah
(*) al(*) hesa: Oh!!! Gt ya
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Yapp...
(*) al(*) hesa: Soalx, kdg klo aq buru2 aq basuh skali aja
(*) al(*) hesa: N teman bilng ga sah
(*) al(*) hesa: Tp menurutq sah.krn setauq yg wajib itu yg pertma.
(*) al(*) hesa: He he
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hehe....manusia kan memang di ciptakan untuk saling tergesa-gesa
(*) al(*) hesa: Kkkkkk
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: kalo imam syafii ya ngga sah, karena ada koidah mengulangi yang masuk dalam syarat sah na wudhu
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: ;)
(*) al(*) hesa: ;-)
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Wudhu na aja asal, bisa di pastikan sholat na juga buru-buru juga
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: =))
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ibadah ko nyari cepet na :)
(*) al(*) hesa: =-d
(*) al(*) hesa: Elimtihani itu ap?
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hehe
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Biasakan untuk mencari sempurnana ibadah
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Agaar mendapat nilai sempurna juga :)
(*) al(*) hesa: Insya Allah
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Nama aslii ane noor moohammad al imtihaniy
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Alvin kurnia Saputra pemberian ayah kandung yang nasrani
(*) al(*) hesa: Oh!!!!
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hehe begitulah
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Saya ikut orang tua angkat
(*) al(*) hesa: Kok bisa kang????kok g tinggl sama ortu kandungx
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hehe...adalah cerita na
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Bapak ibu kandung cerai
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Bapak di kalimantan sama istri muda na
(*) al(*) hesa: Klo ibux?
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ibu di medan sama suami baru nya
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kk kandung di bali dengan istri na
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ibu angkat masih sodaraa
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Dulu usaha na morat marit
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kk perempuan meninggal sepulang dari kuliah di sidney
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kebetulan kelahiran juga ngga di harap kan
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Oleh mereka
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: :)
(*) al(*) hesa: Kelahiran siapa yg ga d harapkan kang?
(*) al(*) hesa: Kang alvin atau kknya?
(*) al(*) hesa: Jadi sejak kapan kang alvin masuk islam
(*) al(*) hesa: Lagi kerja ya. Met kerja bang ustad
(*) al(*) hesa: Aq mau pesan satu set hatinya ya
(*) al(*) hesa: Jangan lupa d buatkan
(*) al(*) hesa: =d =)) =-d
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Saya lah
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ya. Ni mau pasang
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Bisa bisa
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Tapi uda di set kang cakra
(*) al(*) hesa: Kkkkkk
(*) al(*) hesa: =d
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hehe
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ketawa aja kek lagi seneng
(*) al(*) hesa: Statusx artix apa kang?
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Buka di google aja
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: =))
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kita tak pandai bahasa arab
(*) al(*) hesa: Knp mest buka google. Klo ada bang alvin
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ngga kaya akang cakra
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: :)
(*) al(*) hesa: =-d
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hehe akang cakra
(*) al(*) hesa: Logikax, ga mungkn pasang status klo ga tau artix
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kapan neng cakra mau di lamar
(*) al(*) hesa: =d =)) =-d
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Logika kek judul lagu na agnes maunikah =))
(*) al(*) hesa: =-d =d
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Huuss diem jangan nangis mulu
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Di kira maen na kasar ntarr
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: =))
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ngga enak ama tetangga
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: :p
(*) al(*) hesa: =)) =-d =p
(*) al(*) hesa: Kok nangis. Senang tau!!!!
(*) al(*) hesa: Apa dong artix pak ustad statusx
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Intinya agar kita sabar
(*) al(*) hesa: Arti sesungguhx kang atuh
(*) al(*) hesa: Aq da tau intix ttg kesabaran.tp aq mau tau arti sebnrx kata2 itu
(*) al(*) hesa: Kok ga boleh si aq panggil pak ustad. D T4 pengajian d panggil pak ustad kan.
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hmmm ya yaa yaaa
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Sip jempol dah
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Sabarlah kalian, dan jadilah orang2 yg sabar, sungguh alloh bersama kita, maka jangan lah ada kekhawatiran.
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Cukup
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Atau gmn ?
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ngga juga
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Biasa panggil na
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kita ngga ngaji
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Cuman musyawarah ilmu
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kita hanya sebge moderator aja
(*) al(*) hesa: Klo aq bilang cukup, brart aq puas. Sdgkn belajar itu tdk ada kata cukup
(*) al(*) hesa: He he
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Silahkan
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Apa katamu
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Lah
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: ;)
(*) al(*) hesa: =d =)) =-d
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Mungkin kamu orang yang keras ya
(*) al(*) hesa: Kang alvin tinggal d mana?
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Dan suka main ego sendiri
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Tangerang
(*) al(*) hesa: Keras gimana maksudx?
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Tuh cara bertanya aja begitu
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: :)
(*) al(*) hesa: Klo aq merasa diriku orgx santai aja
(*) al(*) hesa: Emang cara bertax aq kenapa?
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ngga apa apa :)
(*) al(*) hesa: Aq tau
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: no problem
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: :)
(*) al(*) hesa: Maksud kang alvin, klo aq nax to the point gt kan
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Pantes kalo kang cakra diem :)
(*) al(*) hesa: Ga ada embel2x
(*) al(*) hesa: Ga ada pembukaan penutupan
(*) al(*) hesa: Langsung intix
(*) al(*) hesa: Kkkkkkkk
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Bukan itu
(*) al(*) hesa: Jadi?
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Justru kalo itu nggak masalah
(*) al(*) hesa: Kasi tau dong
(*) al(*) hesa: Biar aq bisa intropeksi diri
(*) al(*) hesa: Dr segi apa aq d katakan keras orangx
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kalo nanya ngeyelll
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Itu :)
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Padahal kadang diri udah tahu
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: ;)
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Karena yang di status bukan hal baruu
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Sering kita dengar
(*) al(*) hesa: Aq memang sering d katain gt. Ngeyel
(*) al(*) hesa: Pdhal,
(*) al(*) hesa: Aq memang ga tau
(*) al(*) hesa: Aq ga suka pura2 tau pdhal sbnrx ga tau
(*) al(*) hesa: Bukankh itu lebih menyesatkn
(*) al(*) hesa: Membodohi diri sendiri
(*) al(*) hesa: Terkdg, ada sesuatu yg menurut org sepele dan hal biasa, tp bisa saja luar biasa bg orang lain
(*) al(*) hesa: Sama seperti kang alvin.
(*) al(*) hesa: Statusx itu kang alvin anggap semua org
(*) al(*) hesa: Tau
(*) al(*) hesa: Tp blum tentu kan
(*) al(*) hesa: Smya org tau
(*) al(*) hesa: Aq orangx santai2 aja n suka bercanda. Hx saja, klo ada sesuatu yg ga aq tau apa salahx bertanya.
(*) al(*) hesa: Bukankah akang td bilang malu bertanya sesat d jalan
(*) al(*) hesa: =d
(*) al(*) hesa: Bxk bertanya malah d bilang ngeyel.x_x
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hmmm terlalu panjang ....
(*) al(*) hesa: Iyyaaa. Kayak koran.*SUSPICIOUS*
(*) al(*) hesa: Masi d t4 kerja ya=-)
(*) al(*) hesa: Tq kang alvin. Da menemani aq seharian ngobrol.jd ga bt kerja na=-d
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ya nehhh
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Bt ma temen kerjanya kek siputt
(*) al(*) hesa: Anakx da brapa kang alvin?
(*) al(*) hesa: =-)
(*) al(*) hesa: Anak buahx mksudq=d
(*) al(*) hesa: Mau nx lagi nih
(*) al(*) hesa: Aq pux utang 80 ribu
(*) al(*) hesa: Tp aq ga mau byr
(*) al(*) hesa: Krna,
(*) al(*) hesa: Dulu kan aq ikut senam gt byr per pertemuan. Dia juga jual baju senam. Tp ga lama kemudian, dia brenti jd instruktur senam.pdhal kan bajux baru aja d beli. Aq bru byr sebagian.blum lunas.
(*) al(*) hesa: Aq kan belix tuk ikut senam. N dia juga ga datang nagih. Tapi aq tau rumahx
(*) al(*) hesa: Malas aq bayarx
(*) al(*) hesa: Gimana tuh bang
(*) al(*) hesa: Aq berdosa ga
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hukum dain/ hutang wajib di bayar
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: ;)
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Dosa atau nggak di logika aja
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Bila barang wajib di tinggalkan :)
(*) al(*) hesa: Jadi klo aq ga mau bayar, bajux aq kasi saja ma org gt?
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hahaha
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: dulu aqad jaul belina gimana
(*) al(*) hesa: =-d
(*) al(*) hesa: Intix, utang ttp harus d byar ya kang cakra. Eh salh. Kang alvin
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hahahaha iya lah
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kalo hutang ngga bayar ya lunasss ngga punya hutang
(*) al(*) hesa: Tapi kesel, da beli bajux mahal2, eh brenti ngajar senamx.kan rugi.=-s
(*) al(*) hesa: Bang alvin ol ga ya!*Pensive*
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ngga ol
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Baru pulang kerja
(*) al(*) hesa: =d
(*) al(*) hesa: Pesananq kapan jadi akangggg
(*) al(*) hesa: Satu set ht kang alvin ya
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hahaha
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ntar tanya kang cakra dulu...
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kwokkwokkkwokkk
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: hati na akang cakra kah :)
(*) al(*) hesa: Kkkkkkkkkk
(*) al(*) hesa: Hatinya akang alvin lah
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hehehe bisa dia atur =))
(*) al(*) hesa: <3<3
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hehehe tuh ge apa
(*) al(*) hesa: Ge apa maksudx lagi apa ya?
(*) al(*) hesa: Lagi ol aja d mm
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Iya
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: :|
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ohh ... Rame ya :)
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Capek
(*) al(*) hesa: Iya akang.ada 100 user
(*) al(*) hesa: Masi tadarusan d mm
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ohh 100 user ya (y)
(*) al(*) hesa: Kkkkkkkkkkk
(*) al(*) hesa: 10 dengan bot
(*) al(*) hesa: Kkkkkkk
(*) al(*) hesa: =-d =)) =d
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ya ya ya :)
(*) al(*) hesa: Itu beneran foto kang alvin ya
(*) al(*) hesa: Kok kayak artis y
(*) al(*) hesa: Kanagn2 fotox orang lagi yg d pasang
(*) al(*) hesa: Kanagn (jangan)
(*) al(*) hesa: Sory ccd tiping
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Foto di google itu =))
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Saya mah jelekk :)
(*) al(*) hesa: Kkkkkkkk
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Nyari banyakk kog di google foto itu
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: (y)
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hehehe
(*) al(*) hesa: Kkkkkkkk
(*) al(*) hesa: ({})
(*) al(*) hesa: Kang cakra tm lo d ic
(*) al(*) hesa: Ol dong kang alvin
(*) al(*) hesa: Assalamu alaikum...
(*) al(*) hesa: Masi bix nax?
(*) al(*) hesa: Masi bisa nanya kang cakra, eh kang alvin=-d
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Mshh
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: silakan
(*) al(*) hesa: =-d
(*) al(*) hesa: Lg sibuk ya kang cajra, eh kang alvin
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ngg jg
(*) al(*) hesa: Sbntx yg bisa membuat sebuah hubungan itu langgeng apa ya
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kejujuran, keterbukaan, saling menyesuaikan diri satu sama lain, dan meredam amarah.
(*) al(*) hesa: Apa yg mesti aq lakukn, jika  pacrn dgn org yg sudah menikah. Ini hx contoh yabukn aq. Tp temn
(*) al(*) hesa: Tp sbnrx  dia sh pisah lama dgn istrix
(*) al(*) hesa: Hx istrix ga mau d cerai
(*) al(*) hesa: Sdg keluarga juga mendsak agar cpt menikah
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hmmm pacaran aja haram hukum na :)
(*) al(*) hesa: Anggaplah bukan pacaran kang
(*) al(*) hesa: Tp saling suka
(*) al(*) hesa: Komitmen mau nikah
(*) al(*) hesa: Tp terhalang krn msalah td
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Tergantung lelaki na kalo mau beristri 2 asal mampu adil dalam nafkah bathin dan lahir silahkan
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Sebagai kamu jaga jarakk
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Sebelul lelaki itu memutuskan
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Tentang masalah tadii
(*) al(*) hesa: Masalahx temanq ini  sngt suka juga sama pacarx
(*) al(*) hesa: Bxk yg suka dia tp dia tdk mau
(*) al(*) hesa: Maux sama lelakiini
(*) al(*) hesa: Pdhal kan umur sudah hampir 30
(*) al(*) hesa: Klo cowok sih ga jadi masalah
(*) al(*) hesa: Tp kasian sama ni perempuan
(*) al(*) hesa: Keduanya kan sama2 pns. Jd ga bisa asal nikah akhi
(*) al(*) hesa: Klo blum afa surt cerai
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Itu tau
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: =))
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Heran anee
(*) al(*) hesa: Kan  maksudx curhat
(*) al(*) hesa: *Tear*
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Curhat sama tanya beda :)
(*) al(*) hesa: Ga tau bedain
(*) al(*) hesa: =d
(*) al(*) hesa: Stdkx kan, klo ada masukan,
(*) al(*) hesa: Bisa  lebih menjernihkn pikiran gt
(*) al(*) hesa: *Tear*
(*) al(*) hesa: Klo d pendam, nanti mlh tumbuh jadi jerawat batu
(*) al(*) hesa: Lagian td aq kan memang nx.
(*) al(*) hesa: Selqnjutx sesi curhat
(*) al(*) hesa: =-d =)) =d
(*) al(*) hesa: Soalx aq kasin sama temanq
(*) al(*) hesa: Pdhal dia cantik, kaya, baik hati,
(*) al(*) hesa: Rajin puasa
(*) al(*) hesa: Mau ga aq kasi pin bbx
(*) al(*) hesa: Biar klo da knalan bisa kasi dia  pencerahan dikit
(*) al(*) hesa: Karir juga bagus
(*) al(*) hesa: Foto Dikirim
(*) al(*) hesa: 73D80AFC
(*) al(*) hesa: Maaf ya kang
(*) al(*) hesa: Klo ga mau gpp
(*) al(*) hesa: He he he
(*) al(*) hesa: Nant aq cari masalah yg lain aja
(*) al(*) hesa: Yg bisa aq txkan
(*) al(*) hesa: Bukan  yg bisa d curhatin
(*) al(*) hesa: ;-)
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Masalah kamu sendiri kali itu
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hmmm ngga mau nyari yang cantik
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Engga mau juga sama yang kaya
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ataupun nasab na bagusss
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Cukup dengan agama na yang bagus
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Sudah mempercantik diri n hati na
(*) al(*) hesa: Bukannn
(*) al(*) hesa: Itu temanq
(*) al(*) hesa: He he
(*) al(*) hesa: Tuh fotox sama pinx
(*) al(*) hesa: Coba aja d add
(*) al(*) hesa: Dia orang jawa
(*) al(*) hesa: Klo aq org bugis
(*) al(*) hesa: Aq sahabatn sama dia
(*) al(*) hesa: Tp sejak berhubungan dgn pacarx yg sekarang, dia tertutup. Ga perna mau mengakui klo dia masih pacaran. Tp klo ada acara jalan2 pasti selalu berdua.
(*) al(*) hesa: Klo keduanya mau pergi makan, aq kadang d ajak. Jd kami bertiga
(*) al(*) hesa: Klo aq sih ga ada masalah dengan pacar. Soalx ga pux pacar. Nanti pacaranx stlah nikah aja.
(*) al(*) hesa: Katanya lebih seru
(*) al(*) hesa: Kkkkkkkkk
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hmm begitu kah :)
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Gambar Diterima
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Baru deket aja ;)
(*) al(*) hesa: Orng mana kang
(*) al(*) hesa: Maksudq tinggal d mana dia
(*) al(*) hesa: Cantikkk
(*) al(*) hesa: Pantas itu hari bilang org bugis. Trxta lagi pdkt ya sama org bugisss
(*) al(*) hesa: Kapan nikahx kang
(*) al(*) hesa: =-d =)) =d
(*) al(*) hesa: Jadi, pupuslah harapanq tuk pdkt sama bang alvin.='(
(*) al(*) hesa: Becanda
(*) al(*) hesa: Aq da nikah
(*) al(*) hesa: =d =)) =-d
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: baru nyari kecocokan aja
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Masih sama sama free
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Sekedar deket
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Orang Bone
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: ;)
(*) al(*) hesa: Sama
(*) al(*) hesa: Aq juga orang bone kang
(*) al(*) hesa: Kenal d mana?
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Tapi tinggal di Makassar
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Di dumay aja
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Rencana Idul Fitri ketemu sekalian mau ke tempat tante ane di Makassar ;)
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Insya Alloh
(*) al(*) hesa: Amin
(*) al(*) hesa: Kang Alvin tinggal d mana?
(*) al(*) hesa: N ketemu d mana?
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Saya Di Jakarta
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ketemu di makassar mungkin
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Wallohu A'lam Bisshowab ;)
(*) al(*) hesa: Maksud aq abang kenal dia d mana?
(*) al(*) hesa: D cf?
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Di dunia mayaaaa
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Dumay dumay
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Lah
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Masih ngga ngerti juga
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: :(
(*) al(*) hesa: *Tear*
(*) al(*) hesa: Kan udah aq bilang. Apa yg org lain tau blum tentu kita tau.
(*) al(*) hesa: Aq td mengira, dumay itu nma kota d sumatra
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ya
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: ;)
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hadehh itu pakai -i dumai
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: :(
(*) al(*) hesa: Kkkkkkkkk
(*) al(*) hesa: Mana aq tau
(*) al(*) hesa: Kkkkk
(*) al(*) hesa: Aq tinggal d kampung
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hadehhh
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Siapa yang nanya
(*) al(*) hesa: Kkkkk
(*) al(*) hesa: Krna org kampung, makax ga trlalu tau soal istilah gt
(*) al(*) hesa: =')
(*) al(*) hesa: Tp klo nanya, slalu d kira ngetes
(*) al(*) hesa: Bxk nanya, d bilang ngeyel
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hehe
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ngga ngetess lah
(*) al(*) hesa: Nggak nanya tersesat.;^L
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Huhft
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Susah ya ngasih tau km
(*) al(*) hesa: Kkkkkkkkkk
(*) al(*) hesa: =-d =)) =d
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Liat diri aja agar bs. Di hargain org lainn
(*) al(*) hesa: =p
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: :)
(*) al(*) hesa: Tp aq senang deh bisa bbman. Biarpun aq nx macam2, ttp d jawab.
(*) al(*) hesa: Biarpun mngkin bt=-)
(*) al(*) hesa: Aq main cf baru sebulan aja.fb pun gt. Soalx jaringn d kampungq baru masuk
(*) al(*) hesa: Makax ga trlalu paham istilah2 baru. He he
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ya...kita hanya menghargai orang
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Berusaha baik sama orang
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: mau di tanya, di test, aa
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Atau apapun ya jawab aja :)
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Ntar juga tahu sendiri
(*) al(*) hesa: =-)
(*) al(*) hesa: Trkadang orng bertx, bukan krn ga tau, bukan juga krn tau. Tapi ragu.
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Banyak temen yang begitu
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hanya ngejajal ilmu
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Biar tahu dia lebih pinter dari kita
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Kita hanya senyum aja ;)
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Justru orang itu keliatan bego na dan lebih rendah derajat na dari pada tumbuhan padi.=))
(*) al(*) hesa: Iya kang.
(*) al(*) hesa: ;-)
(*) al(*) hesa: Kata orang, orang bugis itu mahal. Kesanx menjual anak. Padahal bukan bgtu hakikatx
(*) al(*) hesa: Kata orang2 tua
(*) al(*) hesa: Krn biar lelaki itu berfikir dua kali, tuk menikah lagi. Karena satu saja, terkdang mesti jual tanah demi melamar seorang gadis. He he.
(*) al(*) hesa: =-d =)) =d
(*) al(*) hesa: Td namax fatima ya kang.dia kerja d mana?
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Di kantor bupati
(*) al(*) hesa: Oh!
(*) al(*) hesa: Semangt kang!
(*) al(*) hesa: Aq dukung.
(*) al(*) hesa: Klo gt, aq ngefans lagi ah sama kang cakra
(*) al(*) hesa: =d =)) =-d
(*) al(*) hesa: Soalx hatix kang alvin   sudah ada yg pux
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Monggo :)
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Hati ku penuhh :)
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Tapi bukan para fans
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Shahabat, teman, dan relasi ;)
(*) al(*) hesa: ;-)
(*) al(*) hesa: Kang alvin org jawa apa sunda?
(*) al(*) hesa: Mukanya kok kyak india gt ya
(*) al(*) hesa: ;-)
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Jawa
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Perasaan kamu saja mungkin
(*) al(*) hesa: Kkkkkkk
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Lagi pula itu photo google
(*) al(*) hesa: Kkkkkkk
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Photo orang :)
(*) al(*) hesa: Bener deh
(*) al(*) hesa: Mirip artis india.....
(*) al(*) hesa: Siapa ya
«~•El'Imtihaniy'Em'En•~»: Photo google dimirip-miripin :)
(*) al(*) hesa: ;-)
(*) al(*) hesa: (<B.<B)

Jumat, 07 November 2014

Mbak lastri

Dari namanya..... tak ada yang istimewa. Mbak lastri. Itulah yang sering kami panggilkan. Nama yang sederhana. Sesuai dengan penampilannya. Dari wajahnya saja sudah kelihatan kalau orangnya lemah lembut dan baik hati. Tutur sapanya ramah.

Kalau teman-teman ngajarku mengenalnya karena ia bangdes di kecamatan tempatku ngajar, namun aku telah mengenalnya sejak ia belum jadi apa-apa.

Dulu....zaman orde lama, zaman pak Suharto, ada yang di sebut idt. Entah apa kepanjangannya. Intinya, ia yang tahu dan menyelurkan dana desa yang masuk. Ia langsung di kirim  dari pusat dan di tempatkan di kampungku.ada  Sebuah rumah milik ayahku di belakang kantor desa, disitulah ia tinggal bersama dengan kerabatku yang tinggal di sana yang belum punya rumah sendiri.
Sebagai kepala desa, ayahku menyuruhnya tinggal di sana saja. Karena masih ada kamar kosong. Rumah itu tak disewakan. Memang disediakan tuk kerabat yang datang dari kampung

Saat aku masih kecil aku cukup akrab. Begitupun dengan orang-orang disekelilingnya.

Ia datang membawa diri dan harapan tanpa tahu bagaimana nasibnya di tempat yang tak pernah ia datangi.

Entah berapa lama ia tinggal di desa ini. Yang pastinya, ia pernah menjadi bagian dari desaku. Bahkan sempat menjalin kasih dengan tetangga samping rumahnya.
Namun sayang, ayah dari laki-laki itu tak setuju. Mbak lastri orang jawa. Kurus. Kerempeng.

Begitah orang dulu. Masih sangat kental dengan kesukuannya. Padahal Allah sudah mewahyukan, bahwa orang yang terbaik itu adalah orang yang bertakwa. Yang baik hatinya.

Sang laki-laki tak sanggup melawan ayahnya. Demi baktinya hubungan itupun putus.

Tamat dari kuliah di makassar, aku honor, ngajar di sma dekat kantor camat. Aku jadi sering ketemu dengan mbak lastri yang ternyata sudah jadi pns dan bangdes di kantor camat. Ia juga telah menikah dengan seorang guru pns, dia juga orang bugis. Kayaknya, takdirnya memang menikah dengan orang bugis.

Beberapa tahun kemudian kudengar mbak lastri jadi sekcam. Semakin tinggi jabatannya, badannya juga semakin besar. Mabk lastri dulu tinggi dan langsing, rambut panjang dengan wajah oval. Orangnya juga cantik. Di tambah lagi ramah. Murah senyum.

Saat aku lulus jadi pns, ia juga sangat senang. Matanya berkaca-kaca ketika mengucapkan selamat pada ayahku di pasar. Bagaimanapun, saat ia meninggalkan jawa, ia tak punya siapa-siapa di sini. Tinggal di rumah dan menganggap ayah dan ibuku sebagai orang tuanya. Sampai sekarang, ia tetap menaruh hormat pada ayahku walaupun tak lagi berstatus jadi kepala desa.

Semua orang lagi ramai membicarakan camat barunya yang seorang perempuan.
Mbak lastri. Ya! Dialah camat baru yang baru di lantik di kecamatanku. Setelah sekian lama mengabdi di kecamatan tomoni, akhirnya ia kembali dengan jabatan barunya yang membuat semua orang heran.
Pastinya, ia tak akan sulit beradaptasi, karena ini ibarat pulang kampung.
akan ketemu dengan mantan pacarnya ni..... He he he....

Seandainya ayah laki-laki itu masih hidup, mungkin ia akan malu.
Wanita yang dulu ia tolak mentah-mentah jadi menantunya.... kini telah menjadi orang nomor satu di kampung. Walaupun ia bukan lulusan stpdn.

Itulah hidup. Selalu penuh dengan misteri.

(Based on true story)

Sabtu, 01 November 2014

Mau Tanam bakau di pinggir sungai

Tanah yang ayahku gadaikan, akhirnya aku ambil dengan mengambil kredit di bank bpd 17 juta dengan potongan sekitar 1, 5 juta dan cicilan 290 ribu selama 10 bulan. Tak apa-apalah. Karena perkiraan hasil dari kebun coklatnya nanti akan lebih banyak dari cicilannya.

Berapa tahun ya.... aku tak ke sana. Kayaknya sudah lamaaa sekali aku tak ke sana.

Sebenarnya, baru tahun lalu ayahku gadaikan saat mau beli mobil dan uangnya tak cukup. Saat ditawari bank tuk ambil kredit lagi, aku langsung mikir dan mikir. Kepikiranlah tuk menebus kebun itu. Sisa gajiku 400 ribu. Kalau kebun itu aku ambil, bisa mendapatkan 1 juta perbulan saat musim. 

Karena aku yang tebus, aku deh yang akan ambil hasilnya. Sekaligus yang kerja. Dulu yang kerja orang lain. Tinggal tunggu uang hasil jual coklatnya.

Sekarang.... suami sudah jarang ke mayoa. Kebun di mayoa juga yang kerja orang lain. Kebun yang di sini yang dekat rawa, sawitnya sudah besar. Jadi tak terlalu butuh perawatan. Kerjanya tak lagi sepadat dulu.

Mungkin sudah ada sekitar 5 meter lebih kebun itu terkikis air saat banjir dan menjadi sungai. Otomatis kebunku menyempit. Sedang kebun yang di seberang melebar.

Aku jadi berfikir. Kalau dibiarkan..... beberapa tahun kedepan, kebunku akan hilang. Habis menjadi sungai. Untung ada pohon bambu dan pohon besar yang lainnya yang masih bisa menahan abrasi sehingga tak terlalu parah dibandingkan kebun orang lain.

Kebun pak asap tinggal sebaris cokatnya yang tersisa. Sedang kebun pak abri.... malah sudah ludes. Coklatnya sudah terseret banjir dan berisi dengan air sungai. Padahal kebun itu telah menfkahi mereka selama berada di kampung ini.

Aku browsing di internet. Pohon apa yang bisa menahan abrasi di pinggir sungai. Pohon mangrove. Tapi.....
" mangrove hanya hidup di air payau." Kata seorang teman.
"Payau?" Kedengarannya tak asing. Namun lupa artinya.
"Perpaduan antara air laut dan air asin."
Semangatku sedikit kendor. Tapi aku tak menyerah. Di coba tak mengapa. Gagal jadi pengalaman.Kembali googling.
"Mangrove yang hidup di air tawar."
Ternyata ada. Yang jenis bakau. Seorang peneliti melakukan penanaman di air tawar dalam percobaannya. Memang daya tymbuhnya berbeda. Yang di tanam di air asin daunnya lebar. Sedang yg di air tawar daunnya kecil. Disebutkan juga kalau jenis rhizoparus sp cocok di tanam di air tawar yang berlumpur.

Mulailah mencari toko online yang jual bibit mangrove. Sebenarnya laut tidak terlalu jauh. hanya tak tahu kalau harus pergi cari. Kemana? Di mana? Aku tak mengerti. Walau sekarang adalah waktu yang tepat tuk mencari biji mangrove. Atau di sebut dengan propagul. Karena september sampai maret adalah waktunya panen biji mangrove. Sekarang bulan november.

Dari pada ribet mendingan beli online.
Toko pertama harganya 700 rupiah. Minimal order 500 biji belum ongkos kirim.
Aku cuma mau beli sedikit. Percobaan. Rugi dong kalau beli nanyak namun tak tumbuh.

Pindah lagi ke toko online b.
Harga 1000 Minimal order 100 biji dengan ongkos kirim 35 ribu per kg kalau lewat pos dan jne 60 ribu.
Lewat pos pastinya. Soalnya murah.

"Bagaimana mbak? Jadi order? Saya sudah ambilkan di kebun 100 biji."

"Semuanya 240 ribu bu dengan ongkir."
" aku maunya 50 biji aja mbak."
"Ok." Dia setuju.
Awalnya aku di suru transfer  155 ribu. Dengan perkiraan 3 kg. di kiranya cuma dua kg. Namun bijinya sudah tumbuh jadi bertambah berat. Aku ok saja.

"Towuti luwu timur, dekat rumah ibu nggak?"
"Jauh. Sekitar 200 km." Menurutku. Soalnya suami aku tanya dia juga tak tahu. 
"Ada tadi saya kirimkan bibit jati 1 kg biaya kirimnya 65 ribu ternyata. Karena adanya kilat khusus. Besok saya tanyakan ya bu di kantor pos berapa biayanya untuk alamat ibu."
"Besok kan hari minggu bu."
"Kantor pos pusat minggu buka sampai siang. Kalau hari lain sampai malam."
"Oooooo...."
Aku cuma ber ooooo sendiri. Baru tahu. Kalau kantor pos buka sampai malam. Berarti laku banget kantor pos di sana. Kalau di sini pengunjungnya di hitung jari saja.

"Bu. Biaya ke alamat ibu 60 ribu perkg. Jadi semuanya 240 ribu."
Berat di ongkos deh.

Aku baru ingat kalau labecce, tetaggaku selalu pergi menangkap ikan di laut. Dulu... sewaktu masih gadis aku kadang ikut pergi makan-makan ikan hasil tangkapannya di pondok kecil dekat laut jika air lagi surut bersama keluarganya. Karena aku dengan akrab dengan anaknya, mariana.

Aku bisa beli sama dia. Tanpa ongkos kirim. Hanya saja.... terlanjur nanya sana sini. Aku juga tak tahu. Mangrove di pinggir laut itu jenis apa?
"Bagaimana bu? Jadi?"
Tanyanya lagi.
"Biskah saya pesan dua kg saja?" Tawarku.
"Ibu ini serius atau main-main? 50 biji aja saya sudah rugi bu. Ibu minta lagi cuma dua kg."
Wahhh....marah ni penjualnya. Namanya pembeli. Nawar boleh kan? Biarlah ku ambil.
" He...he...he.... ok deh bu. Hari senin saya transfer uangnya."

Hari senin.
Bagaimana bu? Jadi transfer uangnya?"
"Iya bu. Baru mau pergi transfer."
90 sudah ku transfer lewat atm. Saldoku tidak cukup. Tadi cuma 200 ribu. 50 ribunya aku transfer ke nulis buku tuk biaya cetak kumpulan cerpenku. Ndak cukup dong! Maunya transfer 100 ribu saja. Tak bisa juga. Jadilah 90 ribu. Lalu sisanya aku mau transfer manual lewat teller saja.

Bri antri. Aku paling malas ngantri apalagi saat perut lagi mules begini. Lagi M. Jadinya keadaan nggak stabil.
"Apakah bisa di transfer lewt pos saja?" Maksudnya sekalian aku juga mau ke sana bayar listrik. Kan sudah tanggal 3. Daripada nunggu lagi ngantrinya.
"Ibu ini main-main apa serius. Kami tidak pernah menerima transfer lewat pos."
Meradang lagi deh. Kayaknya, aku pelanggan yang paling menyebalkan dalam hidupnya. He he he.
Siapa tahu aja kan bisa juga lewat pos. Soalnya aku juga tak tahu. Makanya nanya. Kantor pos kan juga sudah online.

Seorang tetangga datang. Tang. Dia juga mau transfer. "Nebeng ya.... " mau ikut di nomor antrianku. Kebetulan sekali. Aku malah nitip sama dia dan nomor antrianku aku kasi.

Malamnya....
"Bu. Sudah saya transfer uangnya."
"Ok... nanti saya cek."

"Bu...biasnya kami menerima bukti transfernya."

Aku kirim bukti transfer yang 90 ribu dan kujelaskan kalau sisanya saya titip di teman dan belum saya ambil.
Pulsa juga habis tak bisa nelfon sama sms.
Gagal. Gambarnya tak bisa terkirim. Mungkin jaringan lagi bermasalah.
"Kalau ibu tidak yakin uangnya belum di kirim tidak usah di kirim dulu bibitnya."

Senin, 13 Oktober 2014

Perawatan wajah

Sepulang lebaran.... aku jadi rajin melakukan perawatan wajah. Iri melihat  sepupuku lina yang nampak cantik dengan wajahnya yang  kinclong dan putih. Padahal.... dulu wajahnya biasa-biasa saja.
Saat aku masuk ke kamarnya, aku lihat bedak latulipe di meja riasnya, maskara, eye liner dan alat make up lainnya. Mungkin itu rahasianya. Namun, aku tetap bertanya. Siapa tau aku salah. Selama ini, kalau ke sekolah, palingan aku pakai krim, cilak mata plus alis, lipstik.

Dr.pure. itulah rahasianya. Krim pemutih wajah yang harganya begitu mahal banget bagiku. 150 ribu. Ada krim siang, malam, dan sabunnya.

Biasanya, aku cuma pake krim harga 15 ribu rupiah dan bedak harga 10 ribu. Tak bertahan lama. Saat siang, bedak mulai luntur oleh keringat. Makanya, wajahku tetap kusam dengan sengatan matahari tiap hari saat pergi ke sekolah naik motor.

Umur sudah 33 tahun. Sudah waktunya melakukan perawatan ekstra. Wajah semakin membutuhkan nutrisi agar bisa mempertahankan kulit wajah yang kencang. Kalau tidak.... keriput akan datang menyapa secepat kilat tanpa di sadari. Karena waktu berlalu begitu cepat.

Di bone, aku telah membeli semuanya. Krim dr.pure, eyeliner plus maskara revlon 25 ribu, pensil alis yang tahan air 15 ribu padahal biasanya beli yang seribuan serta bedak latulipe 35 ribu. Aku hanya beli isi ulangnya. Soalnya kalau pakai tempat 50 ribu.  Tawar sana sini. harganya tak berubah. Mau cantik.....mahal juga ya?

Saat pakai eye liner, selalu saja garisnya bengkok atau salah jalur.  Terpaksa di hapus lagi. Maskara pun begitu. Saat lagi menorehkan bulu mata dengan maskara, tiba-tiba mata berkedip, hitam lagi bagian bawah.
Ah..... mau cantik susah juga ternyata.
Untuk merias wajah, aku butuh beberapa menit karena harus hati-hati. Belum lagi jilbab pasmina yang harus di lilit ke depan belakang. Ribet! Tapi biarlah....

Pokoknya, aku harus cantik. Meskipun umur semakin tua aku tetap harus nampak muda.

Aku juga kadang di ledek sama ayahku, kalau aku tak ada tampang pegawai. Tak tahu berhias.
Apalagi kalau liburan ke mayoa... Aku otomatis tak memperhatikan lagi soal penampilan. Tiap hari ke kebun dengan suami walau suami melarang. Tapi aku suka. Biarpun ke sana cuma jalan-jalan dan kerjaku hanya makan bekal lalu tidur-tiduran di pondok kecil di kebun. Jika sudah capek tidur, aku mencari jambu pisang, jambu atau membuka benalu yang bertengger di pogon coklat.

Mungkin sudah waktunya aku memperhatikan penampilan. Bagaimanapun, aku seorang guru yang selalu berada di depan anak-anak. Tentunya dengan wajah yang

Sudah hampir sebulan aku memakai dr.pure. wajahkubsudah nampak putih dan berseri.
"Bedak apa kau pake na bagus mukamu?" Sudah mulai ada yang bertanya. Berarti teman-teman sudah menyadari perubahanku.
Dr.pure.... kataku.

Awalnya, mereka cuma heran dengan penampilan baruku memakai jilbab pasmina. Yang biasanya cuma pakai kudung langsung. Walaupun sebenarnya itu cuma kebetulan juga. Iparku diberi pakaian dan kudung. Namun.... kudung pasminanya diberikan ke aku. Karena ia tak tahu cara memakainya.

Semakin hari...semakin banyak yang menyadarinya. Bahkan beberapa memesan juga tuk dibelikan di bone.

Di facebook, tak lupa aku promosikan. Bukan cari untung. Karena harga yamg kutawarkan juga 150 ribu. Cari pahala lah untuk sementara waktu. Sekalian membantu yus menjualkan barangnya. Sepupu yang lagi bersusah payah bangkit dari keterpurukan kehidupannya. Berusaha membiayai kedua putrinya yang masih kecil karena suaminya tak kerja.

Kuupload fotonya dengan status... " pake dr.pure.. wajah anda akan putih berseri. Kalau tak putih...  anda harus ikhlas... karena itulah warna kulit asli anda.
Tp... jangan khaeatir... putih tak selamanya cantik. Panu juga putih. Tapi kalian tak mau panuan kannn?
Setidaknya... pake dr.pure... akan membuat wajah anda bersih dan berseri.

Bu ida komen membaca statusku.
" mantap promosinya." Iya juga salah satu korbanku.
"Bagaimana? Sudah ada perubahan?" Tanyaku.
"Kan baru dua hari. Kd belum ada perubahan."
"Kalau ndak ada perubahan, berarti harus ganti wajah. Eh...maksudanya ganti produk." Candaku.

Di bbm, tak lupa juga q upload di grup.

"Pake dr. Pure... wajah anda akan cantik dan putih berseri."
"Betuljikah na kasi cantik orang?"
Aku bingung jawabnya. Soalnya bu ina ini kulitnya hitam. Aku juga tak jamin, kalau kulitnya yang hitam bisa putih.
"Kalau kita pake dan cantik, alhamdulillah. Tapi jika ternyata tak berubah.... astagfirullah...."
Balasku. Aku ketawa sendiri membaca komenku sendiri. Entah kenapa kata-kata itu bisa muncul dipikiranku. Setidaknya, biarpun bercanda, itu sudah mewakili promosi yang dikeluarkan oleh dr.pure itu sendiri. Bahwa hasil bisa berbeda dari setiap orang.
" ha ha ha....Ndak jadi deh kalau begitu. Nanti kecewa ka."

"Masi ada dr.pure?" Tanya b.ira. korban ke 6. "Masih ada satu." "Bisa bayar bylan depan? Kalau pembagian shu?"
"Bisa."
Kebetulan pas ada satu. Soalx yus kirim dua. Padahal yang pesan cuma satu.

"Semakin pd setelah paksi dr.pure." komenku pada fotonya yang baru saja di poskan di fb.
"Bagaimana bu ira? Sudah ada perubahan? Kalau belum ada perubahan... berarti di tunda dulu sampai harganya lunas. Ha ha ha."
Candaku.
Bu mel yang membaca statusku komennya hanya   "Ha ha ha".

Bu ira memang sangat rajin upload foto. Lagi di rumah sakit, tak lupa jepret sana sini. Di kantor sambil kerja.... jepret lagi.
Komenku.... "terbukti...sejak pakai dr.pure... semakin pd."

"Apa kita pake? Putih sekali mukata  baru haluss di liat." Nampaknya ada calon korban lagi nu. Kata hatiku.calon orang cantik. Bu gus.
Sekian lama, ternyata ia baru menyadari.
"Dr.pure. mau?" Tawarku langsung." Berapa?" 150 rb. " mahalnya?"
Kalau bu gus, yang suaminya juga pegawai dan sama-sama sertifukasi bilang mahallll  apalagi aku? He he he
"Bisaka d byr pake shu?"
"Ok."

Laku lagi!

Aku jadi benar-benar pd dengan wajahku kini. Ternyata, dengan perawatan yang baik, wajah jelek pun bisa berubah jadi cantik. Putihdan berseri.

Apalagi saat aku pakai jilbab hitam. "Putihnya...." tegur bu melda. Warna yang kontras membuat wajahku benar-benar jelas erlihat putihnya.
Aku lu foto selfi dan q jadikan foto profil bbm.
"Tambah cantik aja.... pasti karena dr.pure." komen bu syam.
He he he... balasku.
"Putih betulka kalau pake de.pure?"
"Ada yang pake....berubah. ada juga yang pake biasa-biasa saja." Kataku jujur.
"Tergantung wajah kayaknya."
"He..he..he.."
"Sudah banyak mi yang laku?"
Lumayan. Sudah 9."
"Alhamdulillah..."
"Iya. banyakmi laku tapi habismi uangnya kubelanja."

Aku mimpi, kalau yus nelfon. Minta uang bedaknya. Tak lama... hp ku berbunyi. "Yus...."
Aduh. Ssebemarnya sudah ada yang bayar 3. Tapi tak sepeserpun yang tersisa. Semuanya kubelanja.
"Mungkin minggu depan na bayarka temanku. Karena minggu depan mau rapat koperasi. Ada nanti mau ma terima temanku shu (sisa hasil usaha) nya." Termasuk aku. Nanti yang sudah kubelanja akan kuganti dengan shu ku juga yang mungkin sekitar 400 ribu.
"Iya. Ndak papaji. " katanya d ujung telfon.

Itulah keuntungan keduaku. Biarpun tak mengambil untung, tapi aku bisa pake dulu uangnya.

Kamis, 09 Oktober 2014

Masa lalu

Ulu hatiku mules saat perjalanan ke sekolah. Tadi pagi memang tak sempat makan.
Kuambil  satu kue lebaran yang tergantung di motor dalam kantongan plastik merah lalu ku makan. Sengaja kubawa tuk teman-teman di sekolah. Sisa kue lebaran.
Tak juga mereda. Nampaknya lambungku minta makanan berat.

Oh iya...ini hari kan jumat. pasar wonorejo. Aku bisa singgah beli buras di sana.

Ada dua pasar yang selalu kulewati. Pasar wonorejo dan pasar kawarasan. Wonorejo pasarnya tiap senin dan jumat. Sedangkan kawarasan selain senin dan jumat. Namun untuk pasar ramainya hari kamis dan minggu.

Penjual buras itu mangkalnya di pinggir jalan. Jadi aku tak perlu masuk ke dalam pasar.
"Buras 3 bu." Sambil menyodorkan uang 3 ribuan. Saat aku sudah berada di penjual buras.
Penjualnya lagi sibuk melayani pembeli. Ada yang beli nasi kuning, cendol, dll. Akupun berinisiatif mengambil sendiri kantongan dan mengambil 3 buah buras. Sudah jadi langganan. Jadi sudah tak sungkan lagi ambil sendiri. Itung-itung membantu penjualnya. Suaminya ada di samping membantu. Namun tetap saja istrinya kewalahan. Karena yang meracik makanannya hanya si ibu. Suaminya palingan mengantarkan pesanan ke para penjual di pasar.
"Sambalnya bu...." kulihat sambal teri di depanku. "bisa beli sambal terinya bu...." sambal teri menggodaku. Akhir-akhir ini nafsu makan menurun akibat maag. Biasanya, kalau sambal, aku makannya jadi berselera.
"Ndak bisa. Itu untuk sokko" Sambil menunjukkan  nasi ketan sebagai pasangannya.

Tapi saat  ia mengambilkan sambal tomat tuk buras iapun memberiku terinya sebagai bonus.... lumayan....

"Beli nasi kuning, bu..."
Tak sengaja aku menoleh ke samping kiri saat mendengar seseorang mau beli nasi kuning. Sesorang yang aku kenal dengan seorang bocah berumur sekitar 3 tahun di sampingnya.
"Hei......." sapaku dengan ramah berusaha santai. Padahal biasanya aku tak mempedulikannya. Pura-pura tak lihat. Tapi aku ingin memperbaiki segalanya. Kami semua sudah berkeluarga. Ia bahkan telah punya anak. Dan ia pun tak pernah lagi mengganggu kehidupanku.
"He....." jawabnya juga dengan senyum kaget.
Dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan. Memang sih masih suasana lebaran idul adha. salam-salaman. Saling meminta maaf.  Tapi aku hanya membalas dengan senyuman. Ia menarik kembali tangannya dengan perasaan malu.  Aku merasa tak perlu. Berapakalipun berjabat tangan kalau hati tak ikhlas tetap saja tak ada gunanya. Bagiku, Yang penting hatiku tak lagi membencinya.
Aku tak mau menyentuh tangannya. Jangan sampai ia teringat lagi masa lalunya. Dan akhirnya menggangguku lagi. Melihatku dan bersikap ramah padanya, pasti ia sudah senang.... apalagi kalau menyentuh tanganku?
Aku bukannya sok alim. Aku hanya tak ingin membuka lembaran lama. Dengan menolak uluran tangannya, ia sadar, kalau aku tak ingin ia hadir lagi dalam kehidupanku. Agar aku tenang. Bagaimanapun, saat melihat dia, kenangan masa lalu pasti akan terungkit dari memoriku tanpa bisa kucegah. Hasrat hati, kenangan tentangnya ingin kuhapus dari ingatanku. Mungkin suatu saat. Akan terhapus sendiri oleh waktu.

"Siapa namamu?" Tanyaku pada anak kecil di sampingnya biar suasananya jadi santai. " Aku jadi cemburu. Dia sudah punya anak lelaki yang lucu, sedang aku belum. padahal aku menikah lebih dulu dari dia.
Anak itu tak menjawab. Malah menjauh seperti ketakutan. Bapaknya cuma tersenyum melihat tingkah anaknya yang bermuka masam melihatku. " ditanyaki nak...siapa namata?" Bapaknya menunduk dan merayu anaknya dengan lembut agar ia mau menjawab pertanyaanku. Mungkin caraku terlalu kasar... he...he..he....
Anak itu tetap diam.
Wajahku serem kali....
Dia ndak tau saja. Kalau tante yang ada di hadapannya adalah wanita tercantik di hati ayahnya. Dulu! Cuma di hati. Tidak di dunia nyata. He he he.
"Aku pergi dulu ya...." pamitku. Soalnya sudah siang. Aku akan ke malili tuk ikut mgmp.

dia... ya! Dia...yang pernah q campakkan begitu saja.... setelah kumerasa.... kalau ia hanya menjadikanq atm berjalannya....

Sebenarx, ini berawal dari cinta monyet.... sejak sma, ia selalu mengejar-ngejarku. Tapi aq tak pernah menggubrisnya. Aku hanys menganggapnya teman dekat. Tapi aku tak pernah mengakuinya sebagai pacar. Walau semua orang menganggapnya begitu. Karena aku akrab dengannya sejak sd. Sering pergi bersama. Aku bahkan sering ke kosannya. Aku senang aja ketemu dengan dia. 
Waktu sd kelas lima, aku memang sudah dekat dengannya. Dan aku suka padanya. Karena dia pintar. Sedang aku, otak pas-pasan. Sampai smp aku masih menyukainya. Namun, jarak yang memisahkan aku dan dia, aku terlupa dengan keberadaannya di hatiku. Dan berpaling pada yang lainnya.

Aku tak bermaksud mempermainkannya. Hanya saja... aku tak yakin. Kalau ia nantinya akan jadi pendamping hidupku selamanya. Karena bsgaimanapun, aku tahu bagaimana keinginan orangtuaku.

Bukan harta kekayaan yang ia inginkan. Yang penting rajin sholat. Anaknya baik.
.

Kalau dia.... tak perlu dipertanyakan. Hanya sekali seminggu. Pas sholat jumat. Apalgi teman bergaulnya non muslim.

Tamat kuliah....entah apa yang merasuki hatiku, sampai aku menerimanya....

Dengan ngajar kursus, otomotais aku bisa mendapatkan penghasilan sendiri.

Ia....
hanya tamatan sma dan kerjanya ke sana kemari tanpa kerja dan hanya numpang di rumah tante.

Ia pernah kuliah jurusan hukum di unhas.... namun karena masalah biaya ia berhenti di semester 4. Sangat di sayangkan.

Tak kerja dan mulut harus berasap... akhirnya..... ia selalu pinjam uang.... pinjam dan pinjam lagi....

Awalnya aku santai saja.... aku kasian....

Tapi.....entah kenapa, suatu hari seorang teman menyadarkanku.
"Kenapa sih kamu suka sama dia.... padahal dia itu palingan hanya menguras uangmu saja..."

Aku senyum2 saja....

Sepulang dari sana.... aku jadi mikir.... dan mikir....

Aku evaluasi kembali tingkah lakunya.
Aku sudah melarangnya merokok, tapi ia tak berhenti juga. Sku suruh ia sholat tapi masih juga seminggu sekali. Selama ini, ia selalu pinjam dan pinjam. Tapi tak ernah di kembalikan. Kalau ia memang cinta, harusnya ia bisa berubah.

Harusnya, ia malu tuk pinjam uang Harusnya, ia membuktikan, bahwa ia bisa diandalkan. Cari kerja atau apalah.

Tiba-tiba saja, muncul rasa benci. Q tulis semua panjang lebar tentang alasan kenapa hubungan itu harus di akhiri. Tapi....sudahlah....kayaknya tak perlu penjelasan panjang lebar.

Sejak itu, aku tak pernah lagi mau menemuinya. Aku memutuskan secara sepihak. Ia sms, telfon, bahkan kirim salam sama siapapun yg dekat denganku. Aku abaikan. Ganti nomor berkali2 tapi tetap saja ia bisa mendapatkannya. Semakin ia menggangguku semakin aku membencinya. Aku ingin lepas dari bayang-bayangnya. Aku ingin dia melupakanku. Aku memberinya sumpah serapah, ia hanya tertawa di telfon.
Aku heran. Bagaimanakah caranya agar ia paham bahwa aku tak mau berhubungan dengan dia lagi?
Aku tak ingin lagi di ganggu.
Malah, ia pernah meminta temannya menemui tanteku bermaksud untuk melamar.
Ya Allahhh...... aku benar-benar meradang.

Sampai aku sudah menikahpun ia pernah telfon. Bahkan sampai ia sudah menikah. Aku abaikan.
Aku benar-benar merasa terganggu dan jengkel dengan ulahnya. Kenapa sih dia tak melupakanku saja?

Sekarang, kehidupannya sudah mapan. Dengan sebuah mobil terpakir di depan rumahx. Aku tak pernah mau tau. Apakah itu mobilnya atau mobil mertuanya. Karena ia tinggal dengan mertua. Ia bisa berbangga. Bahwa ia sekarang mapan walau tak bersamaku.

Aku naiki motorku. Di ujung sana Dia naik mobil.
Lewat di samping ku sambil betkata "kau tak pernah dewasa di...."
"Apa?" Aku tak mendengar jelas karena suara bising motor dan mobil yang lalu lalang.
"Kau tak pernah dewasa....." ulangnya lagi sambil berlalu meninggalkanku. Akupun menstater motorku dan berfikir....
Apakah maksudnya aku awet muda? Sehingga wajahku tetap baby face?
Ah....bukan. pasti bukan itu maksudnya.
Mungkin karna aku tak mau menerima jabat tangannya. Sehingga ia mengira aku masih membencinya. Senyum dan keramahanku cuma basi basi. Biar sajalah.
Biar ia hilang dalam kehidupanku. Dan ia hidup dengan dunianya. Untungnya, walau sekampung kami jarang ketemu. Sejak aku menikah saja, kayaknya baru dua kali ketemu.

Dia naik mobil sedang aku naik motor... "menyesalkah kamu meninggalkannya?" Tanya hatiku.
"Aku..... aku tak pernah menyesal tak memilihnya. walaupun ia sudah mapan, karena kutahu.... aku tetap beruntung dengan hidupku yg sekarang. Aku malah bersyukur meninggalkannya. Karena aku tak yakin. Ia akan sesabar suamiku, menghadapi ayahku yang otoriter. Akan serajin suamiku pergi ke masjid. Seulet suamiku pergi ke kebun. Tak ada yang benci suamiku. Orang lain saja selalu memujinya.... menyukai perilakunya. lebih lebih aku sebagai istrinya. Sunguh bangga "

Soal kemapanan? Dia tak lebih baik dari aku. Aku juga mapan dengan kehidupanku yg sekarang. Biarpun suamiku seorang petani seperti dirinya, tapi Aku seorang pegawai. Mertuanya punya mobil, ayahku juga punya. Malah dalam pandangan orang-orang kampungku, aku adalah orang kaya. Dengan rumah bertingkat dua dan besar.
Hanya dengan bermobil, dia tak bisa menjatuhkanku begitu saja.
Aku..... seandainya mau punya mobil sendiri, aku juga bisa beli. Hanya.... jangan dulu.... sabar.... belum waktunya. Lebih baik beli kebun coklat. Nanti hasilnya baru dibelikan mobil. 

Bukannya aku tak dewasa.... aku menjaga jarak. Jangan sampai ada fitnah. Aku tak ingin masa lalu menggaku  kehidupanq. Krena aku sudah bahagia dengan kehidupanku yg sekarng. Dengan suamiku. Begitupun, aku tak ingin istrinya cemburu. Bagaimanapun, seorang istri akan cemburu jika mendengar tentang mantan pacar suaminya. Biarpun itu hanya sekedar ketemu. Apalagi kalau aku memberinya kesempatan tuk akrab, dia padti minta nomor telfon, saling smsan...,walau murni sekedar teman... tapi tak bisa dibiarkan.semua itu harus dihindari.

Jiwa wanita sangat sensitif. Semua itu harus kujaga. Begitupun dengan suamiku. Aku harus jaga perasaannya.

Aku....sangat jarang menyembunyikan sesuatu pada suamiku. Aku suka bercerita. Tapi.... jika tentang mantan....aku jarang cerita. Biasanya ia tahu sendiri dari seseorang. Namun kalau yang ini, ia tak akan tahu kalau aku tak cerita. Karena saat pengantin baru, ia selalu sms dan telfon. Padahal aku sudah punya suami. Mungkin dikiranya aku menyesal dengan pernikahanku yang dijodohkan. Padahal ia tak tahu. Aku menerima lamaran suamiku demi terhindar dari dirinya. Karena aku sudah muak dengan terornya.

Tapi..... kalau aku ketemu seperti kemarin.... kadang mau cerita. Tapi aku pernah baca, kalau pasangan kita tak suka jika diceritakan tentang masa lalu. Walaupun sebenarnya niat kita hanya ingin jujur dan tak ada maksud apa2.

Benar  kata inul daratista
Masa lalu biarlah masa lalu
Jangan kau ungkit jangan ingatkan aku
Masa lalu biarlah masa lalu....
Sungguh hatiku tetap cemburu.

Rabu, 01 Oktober 2014

Sppd

Pak ven akan ke makassar bersama b.dar dan bu lin untuk pelatihan 2013. Wah.....pelatihannya pasti seminggu. Aku harus bergerak cepat. Aku harus minta uang sppd sama pak sev. Yg bemdahara bos. (Bu ros adalah bemdahara gratis. Tempat pencairan sppd. Namun danax belum cair, sehingga diambilkan dulu dari dana bos. Nanti setelah dana gratis cair, maka akan di gantikan uangnya).

Orang-orang lagi sibuk buat kelengkapan ke makassar, aku ikut-ikutan sibuk sendiri. Hari rabu aku mgmp di malili. Mereka harus berangkat hari minggu. Besok.

"Mintaka sppd pak Sev." Mintaku padanya. "Masi' lama. Seminggu lagi. Mada sudah minta sppd sekarang?" Tolaknya.

Kecewa. Ia selalu membuatku kecewa dan malu.

Dua minggu yang lalu, saat aku mau pergi mgmp dan minta uang sppd, ia juga menolak dengan muka mengkerut. "Mintako sama bapak." "Kitami yang tanya pak?" Aku segan kalau mau ke kepsek tuk minta sppd. "Tanya sendiri to.... kan kamu yang perlu." Dongkol.

Karena waktu itu ia tak kasi, akhirnya aku pun pergi tanpa uang sppd. Kalau harus ke kepsek minta sppd mendingan pakai uang sendiri.
"Uhhh!" Kesal!

Tapi akhirnya ia beritahu juga kepsekbhari itu. Namun sayang.... kembali kecewa. "Adaji katanya nanti dari dinas itu uangnya." Kata pak sev. Sambil mengulurkan surat sppd tanpa uang tunai. "Bawami saja dulu ini, nanti di cairkan kalau tidak ada dari dinas."

Sewa mobil malili tarengge 20 ribu. Pp 20 ribu. Sewa ojek ke sekolah tempat mgmp, sekitar 5 rb, 10 rb pp. Pas 50 ribu. Biasanya kalau dari dinas palingan cuma 50 ribu saja perhari. Pernah suatu hari ke sma 2, yang aku tak tahu keberadaannya akhirnya terlewat. Sewa ojeknya 10 ribu. Untungnya pas mau ke jalan nesar banyak teman bisa jadi tempat nebeng.

Mendingan dinas tidak usah kasih uang jalan daripada sppd hilang. Mendingan sppd yang 150 ribu sekali jalan. Bisa beli oleh-oleh roti kens bakery. He..he..he...

Sppd....sppd.....
Kalau orang biasanya di bilangin mata duitan....kalau aku mata sppd.
"Pergika dulu sppd, na..."kataku spontan pada teman-teman di ruang guru sambil melambai-lambaikan kertas sppdku. Tentu saja teman-teman menyambutnya dengan tawabyang riuh di pagi hari. Tertawa berarti bahagia. Jika bahagia, mengajarpun akan penuh senyum, dan anak-anak akan semangat belajar.

Itulah sekolahku. Selalu di penuhi dengan tawa. Tak kenal pagi, siang ataupun siang bolong. Selalubsaja ada yang berhasil membuat gigi kering kerontang. He..he...he....

Kecewa dengan penolknbpak ven, akupun ke ruang bu tri. "Titip sppdku na. Hari rabupi ku ambilki. Kataku lesu.

"Sppd apa itu?" Tanyanya.
"Mau ke malili hari rabu na ndak mau na kasika uang pak ven." Jengkel.
"Mauka juga minta. Mau ke malili hari senin."ia buri-buru keluar keruangan pak ven. Tak lama ia kembali dengan surat sppd dan uang di tangan.
"Kesanami cepat." Aku kira pak ven yang manggil. Dwngan semangat 45 aku menemuinya yang lagi memberikan uang ke bu dar sppd ke makassar.
"Saya juga pak ven."
"Ndak bisa. Ka masih lama. Masa masih satu minggu sudah mau minta sppd." Dengan muka cemberut ke arah bu dar.
"Kan ndak adaki pak nanti kalau hari rabu. Masi d makassarki." Aduh.... kok susah amat sih.....
"Tanya bapak." Tanya bapak lagi..... huh! Tak mungkin.
"Tidak ke manaji itu uangnya kalau ada."
Katanya lagi. Ia...memang tak kemana. Tapi kan.....aku mau pake ongkos ke malili.

Besok aku ke malili lagi. D sman 1 malili. Terpaksa pinjam uang ayahku dulu yang dititip di rekeningku.
Ambilnya mudah....tapi masukkan direkening yang susah. Harus antrian lama. Apalagi kalau mau nabung 150 ribu saj? Malu!

Perut mules. Pas tangga 1 oktober bulan datang menyapaku. Pas lagi mau mgmp. Aduh..... rasa malas di tambah perut yang berdenyut-denyut membuatku tak bisa bangun.
Jendela yang tak terbuka menjadikan kamarku masih gelap. Pasti suamimu sengaja tak membukanya. Ia tahu aku haid dan tak mau mengganggu tidurku. Kalau aku haid, aku sakit.

Bisakah aku pergi mgmp dengan kondisi yang lesu?

Kupaksakan diriku bangun. Di depan tv, suamiku lagi asyik minum teh dengan biskuit gabing.

Suamiku begitu pengertian. Saat aku lg sakit, ia tak akan merepotkanku. Akan menyeduh sendiri tehnya dengan dispenser.

Kubuat seduhan kunyit dalam segelas air. Obat alami yang kuminum tuk menyembuhkan nyeri dadaku karena maag. Sekaligus tuk meredakan nyeri haidku.

Sudah jam 7. Aku belum mandi dan siap-siap. Nyeri perutku juga belum reda. Kuingat paracetamol yang ada di tasku. Sakitku akan kubantai dengan paracetamol saja.

Ke sekolah nggak ya ambil sppdku  yang kusimpan di laci? Kalau ke sekolah....aku bisa kedapatn kepsek. Kalau tidak....uang sppd nya nanti ndak cair.

Akhirnya dengan berharapa kepsek tidak ada, kubelokkan motorku le arah sekolah.

Helm hijau itu ada. Mtr kepsek yang selalu terpakir depan kantor dengan helmnya yang sudah sangat aku kenal.

Semoga saja ia tak melihatku. Harapku lagi. Saat motorku melewati pagar menuju parkiran.

Hanya membuka helm, jaket tetap terpasang, segera ku berjalan ke ruang guru bersamaan kulihat kepsek ke arah yang sama. Gawat!
"Kenapa terlambat lagi. Na belum ada anaknya...." menegurku saat di depan pintubruang guru.
"Sakit perutku pak....." cepat-cepat ke arah mejaku mencari sppd. Entah d mana kusimpan kemarin saat kuambil di bi tri.

"Sudah lewatmi 1 jam pelajaran ini. Terlambat sekaliki bu." Aku cuma melihat ke arahnya dengan muka di salah salahkan.
"Ketemu."
Tanpa pamit, aku ngeloyor pergi meninggalkan ruang guru lari-lari kecil dan menghilang dengan spin merahku. Entah apa yang ada dalam pukirannya. Sudah terlambat, eh pergi lagi! Ah! Nanti dia juga kan tau sendiri. Lagian....kalau aku tak pergi, kan kepsek juga yang jadi sasaran. Akan di tegur oleh dinas. Seperti minggu lalu. Pak yadi guru biologi tak datang mgmp. Dan kepsek pun di telfon.
Harusnya syukur punya anak buah kayak saya. Rajin pergu mgmp.  Walau cuma nyetor muka di sana. Tandatangan, makan, bergosip....pulang deh. Tak pernah bawa perlengkapan tempur. Laptop ataupun fd. Baru hari ini aku bawa. Itupun diingatkan oleh suami. Pelupa. Itulah aku.

Sampai di tarengge, untungnya ada mobil yang langsung mau berangkat. Kalau sudah jam 8 lewat, biasanya mobil sudah jarang yang lalu lalang.kadang harus menunggu 10 atau 20 menit baru ada mobil lagi. Untung kalau tidak penuh. Sedang aku lagi buru-buru. Pasti pembahasan rppnya sudah di mulai. Berharap hari ini tak terlambat lagi. Agar aku tak selalu menjadi
Guru teladan alisa guru Terlambat datang. He he he.